Damai itu Indah..

Jumat, 17 September 2010

Iringan Musik Nyanyian Ibadat

1. Pendahuluan

Musik mempunyai peranan besar dan penting dalam pelayanan ibadat. Musik dapat menjadi berkat besar dari Tuhan untuk jemaat. Tetapi juga bisa menjadi laknat, artinya mendatangkan ketidaksukaan dan kejengkelan. Iringan musik mempunyai peranan besar yang menentukan apakah nyanyian ibadat menjadi berkat atau laknat. Kalau iringannya bagus, maka nyanyian ibadat akan menjadi berkat.
Bagus tidaknya iringan musik nyanyian ibadat tidak hanya ditentukan oleh ketrampilan dan kemahiran pengiringnya, melainkan juga ditentukan oleh wawasan musik pengiringnya. Nyanyian ibadat dengan iringannya berbeda dengan show musik di luar ibadat. Nyanyian ibadat dengan iringannya bukan dengan maksud sekedar menghibur jemaat, namun lebih bermaksud menolong jemaat untuk dapat mengekspresikan iman, pengharapan dan perasaannya kepada Tuhan. Di samping itu juga untuk menunjukkan agungnya kemuliaan Tuhan, besarnya kasih Tuhan dan wibawanya pesan dan ajaran Tuhan.
Maksud nyanyian ibaat itu harus benar-benar disadari oleh pengiring musik nyanyian ibadat. Oleh karena itu pengiring harus mengerti dan berusaha bagaimana maksud nyanyian ibadat itu dapat tercapai. Untuk itu, pengiring tidak hanya butuh ketrampilan bermain alat musik, namun dia membutuhkan wawasan dan kemampuan untuk mengenal dan menginterpretasi karakter tiap-tiap lagu nyanyian ibadat. Berdasarkan pengenalan karakter lagu itu, baru dapat ditentukan iringan musiknya yang meliputi:  tempo, dinamika, jenis suara iringan, pakai rhythmic beat atau tidak, jenis beat yang harus dipakai, dsb.
2. Pengenalan Lagu.

a.  Karakter lagu.
pianoKarakter lagu dapat diketahui melalui syair lagu. Tiap lagu mempunyai karakter (jiwa) yang berbeda-beda. Lagu-lagu nyanyian ibadat ada yang merupakan kata-kata orang percaya kepada Tuhan (pengakuan dosa, keyakinan, permohonan, ungkapan syukur, penyerahan diri dan pujian),  kata-kata orang percaya kepada dirinya sendiri baik pribadi maupun bersama (kesaksian, kesukacitaan, keyakinan dan komitmen), kata-kata (dari Tuhan atau yang lain) kepada orang orang percaya (seruan / ajakan / panggilan untuk  beribadat, memuji, bersyukur, percaya, berserah dan taat kepada Tuhan, untuk bersatu, bersaksi, dsb), kata-kata kepada dunia (seruan untuk menyesali dosa, bersorak menyambut dan memuji Tuhan, dsb). Jadi nyanyian itu ada yang berupa doa, pujian, panggilan dan kesaksian, sehingga masing-masing mempunyai sifat dan sikap sendiri-sendiri.
b.  Jenis-jenis lagu.
Lagu-lagu yang dipakai di dalam ibadat jemaat kita ada yang berjenis semi klasik, pop dan tradisional. Salah satu ciri lagu berjenis semi klasik adalah harmonisasi-(cord)nya berubah-ubah dengan cepat. Lagu pop, salah satu cirinya adalah cordnya agak lama berubah, lebih lama dari pada semi klasik. Lagu-lagu tradisional (Asia) umumnya hanya mempunyai lima notasi (pentatonik). Yang pentatonik ini bisa digolongkan dalam tiga jenis lagi: pelog, slendro, slendro minor. Pelog: umumnya hanya terdiri dari notasi 1, 3, 4, 5, 7, tetapi kadang-kadang mendapat notasi asesoris 6 dan 2. Slendro: umumnya hanya terdiri dari notasi 1, 2, 3, 5, 6, tetapi kadang-kadang mendapat notasi asesoris 4 dan 7. Slendro minor: terdiri dari notasi 1, 2, 3, 5, 6, tetapi akhir lagunya adalah dengan notasi 6 (mis. KJ. 23).
3. Iringan Musik.
Iringan musik nyanyian ibadat harus sesuai dengan karakter dan jenis lagunya. Karena masing-masing lagu mempunyai sifat, daerah asal dan maksudnya sendiri-sendiri, maka iringan musiknya pun mesti berbeda-beda baik tempo, dinamika, beat maupun jenis suaranya. Lagu yang berjenis semi klasik pasti berbeda jenis suara iringan musiknya dengan yang berjenis tradisional. Begitu juga jenis iringan musik untuk pengantar dan penutup (sebelum dan seusai) ibadat mestinya mempunyai perbedaan yang jelas.
a.  Tempo.
Tempo iringan terutama ditentukan oleh maksud lagu. Lagu yang merupakan doa: lambat - sedang; pujian: agak cepat - cepat;  panggilan, ungkapan sukacita, kesaksian dan komitmen: sedang - cepat. Namun demikian, lagu yang berasal dari daerah Banyuwangi (slendro minor) umumnya bertempo agak lambat - agak cepat untuk semua maksud lagu.
b.  Rhythmic beat.
Ada lagu yang sebaiknya memakai rhythmic beat, ada yang seharusnya tidak memakainya, bahkan ada yang sebaiknya tidak pakai bass (pedal). Lagu-lagu yang sebaiknya diiringi dengan rhythmic beat adalah yang bertempo cepat - agak cepat. Namun demikian, tidak setiap lagu yang bertempo seperti itu seharusnya diiringi dengan rhythmic beat. Lagu-lagu yang temponya lambat dan syairnya menyatakan ketenangan seharusnya diiringi dengan tidak memakai rhythmic beat (contohnya Kidung Jemaat 364, KJ 17 “Tuhan Allah hadir ……………… diam dengan hormat…..”.  KJ 454 “Indahnya saat yang teduh…………”).
Kalau memakai rhythmic beat, beat yang dipilih harus sesuai dengan birama (banyaknya ketukan dalam satu bar) dan harga not-not pada umumnya dalam tiap ketukan (1/2, ¼ , atau yang lain).
c.  Jenis suara.
Sesuai dengan jenis, karakter dan daerah asalnya yang berbeda-beda, maka tidak setiap lagu baik atau cocok diiringi dengan jenis suara yang sama. Untuk lagu berjenis tradisional (Asia) seharusnya diiringi dengan jenis suara alat musik tiup (terutama flute), sebab musik tradisional Asia tidak mengenal piano atau organ. Untuk lagu semi klasik seharusnya diiringi dengan jenis suara piano, organ atau biola. Lagu berirama pop lebih cocok diiringi dengan jenis suara string, trompet, saxophone

d. Saat teduh.
Iringan musik untuk saat teduh sebaiknya memainkan lagu yang bertempo lambat - sedang. Dinamika iringan sebaiknya mulai dengan lembut, maik keras sampai keras sebagi klimaks, kemudian turun menjadi lembut kembali dan berakhir dengan lembut sekali. Dinamika ini untuk mengiringi maksud dari saat teduh yang dimulai dengan upaya menemukan ketenangan, kemudian ada sukacita / kesungguhan dan berpuncak pada kemauan yang kuat melakukan kehendak Tuhan yang berakhir dengan kedamaian dan ketentraman.
e. Pengantar dan penutup ibadat.
Untuk mengantar jemaat memasuki suasana ibadat, sebaiknya pengiring musik memainkan lagu bertempo lambat tanpa vokal pemandu nyanyian. Pemakaian bass (pedal) hanya kalau perlu saja. Untuk mengiringi jemaat pulang (akhir ibadat) sebaiknya pengiring (organis) dan pemandu nyanyian memainkan dan menyanyikan lagu (-lagu) yang memberi semangat (agak cepat - cepat) yang berisi pesan atau penguatan.
f. Introduksi dan interlute.
Introduksi untuk penyanyi berbeda dengan introduksi untuk jemaat. Introduksi untuk jemaat adalah untuk memberi gambaran yang jelas tentang melodi lagu yang hendak dinyanyikan. Karena itu, intro tidak boleh terlalu pendek, seharusnya + 4 bar dan harus memainkan bagian awal lagu, bukan akhir lagu.
Interlute bisa dilakukan dengan memainkan bagian akhir lagu, sebab jemaat sudah mengetahui lagu tersebut. Interlute bisa sepanjang intro, bahkan bisa lebih panjang khususnya untuk lagu pengiring pengumpulan persembahan. Interlute sebaiknya dimainkan dengan memberikan improvisasi melodi lagu, supaya tidak membosankan dan pendek saja (2 atau 1 bar).
g. Ending.
Ending iringan sebaiknya tidak perlu keburu-buru, tidak secara tiba-tiba karena pelayan ibadat sudah berbicara lagi, termasuk ketika pelayan hendak mengucapkan bagian salam dan berkat. Hal ini sekaligus untuk menyambung hubungan dengan bagian selanjutnya dari ibadat itu. Tetapi yang pasti adalah bahwa ending itu tidak panjang kemudian volume diturunkan lalu menghilang dengan tenang, kecuali untuk lagu-lagu yang bertempo cepat dan berdinamika keras.

Rabu, 11 Agustus 2010

Tips mengiringi nyanyian Jemaat..

Belum lama ini saya membaca sebuah tulisan yang bagus di sebuah situs, saya rasa bagus kalo kita semua juga membacanya, yaitu tentang tips mengiringi nyanyian jemaat, tulisan ini sudah pernah dibawakan dalam Seminardan dimuat di Buletin terbitan Yamuger (Yayasan Musik Gereja).
  1. Berlatih sebelum memainkan lagu tersebut. Yang ini jelas harus dilakukan, sekalipun kita sudah sangat menguasai lagu tersebut dan sudah berulang kali memainkan/menyanyikannya.
  2. Kenali dahulu karakter lagu. Hal ini berarti kita harus melihat dahulu siapa pencipta lagu itu, di mana dan dalam suasana apa dia diciptakan (konteksnya). Hal ini akan membantu pemusik untuk memainkan ‘suasana’ musik yang benar sehingga dalam mengiringi lagu tersebut pun penguh penghayatan.
  3. Perhatikan dinamika lagu tersebut! Hal ini harus benar-benar diperhatikan supaya tidak salah pada saat memainkan tempo/intronya. Jika belum tahu lagunya, cari tahu dulu supaya tidak membuat malu jika kita sok tahu.
  4. Perhatikan birama lagu. Jangan mainkan lagu berbirama 3/4 dengan birama 4/4.
  5. Mainkan lagu sesuai dengan nada dasar yang telah diberikan. Tetapi jika Anda orang yang sudah mahir, tentu sudah tahu jika akan menggannti nada dasar suatu lagu dan disesuaikan dengan kondisi jemaat.
  6. Berikan ‘nafas’ pada intro lagu. Jemaat akan lebih mengerti dengan otomatis kapan dia harus mulai bernyanyi ketika pemusik memberi ‘nafas’ pada intro. Artinya, ada bagian yang dimainkan melambat ketika intro akan berakhir dan jemaat akan mulai bernyanyi. Hal ini akan memberi tanda kepada jemaat di mana mereka harus mulai bernyanyi. Berikan juga ‘nafas’ pada bagian interlude dan ketika akan memulai ayat yang baru. Karena itu, iringan yang menggunakan music box akan lebih sulit untuk diikuti Jemaat, karena mereka sulit untuk tahu tahu kapan harus mulai bernyanyi.
  7. Jangan terpengaruh dengan jemaat. Kadang-kadang Jemaat bernyanyi lebih lambat atau lebih cepat dari tempo yang kita mainkan. Usahakan untuk tetap setia pada tempo yang kita mainkan. Kalau memang sudah terbawa, mainkan kembali tempo yang benar di bagian interlude, agar Jemaat dapat mendengar kembali dinamika yang benar.
  8. Jangan korupsi nilai not. Mainkan not yang bernilai 3 ketuk sebanyak 3 ketuk juga. Banyak pemusik gereja yang mengkorupsi harga not dan memainkannya lebih cepat dari yang seharusnya.
  9. Apabila memungkinkan, penggunaan alat musik yang lain di luar piano dan organ seperti tifa, rebana, tamborin, gitar dapat digunakan untuk menambah variasi iringan. Penggunaan alat-alat musik ini juga harus melihat konteks lagu. Menggunakan tifa untuk lagu “Tabuh Gendang” akan lebih sesuai daripada lagu “Sungguh Lembut Tuhan Yesus Memanggil”. Tidak semua Gereja terbuka bagi hal ini, karenanya konsultasikan dahulu dengan Majelis Gereja.
  10. Hal yang terakhir dan yang tidak kalah pentingnya adalah meminta bimbingan Tuhan sebelum mulai mengiringi nyanyian Jemaat. Ingatlah bahwa kita bermain musik untuk mengiringi Jemaat bernyanyi memuji Tuhan, dan bukan bermain musik di tempat-tempat umum lainnya. Selain itu, hal ini akan membantu pemusik lebih tenang dan percaya diri.

Yesus Kristus dalam Perjanjian Lama ada ?

Ada banyak nubuat Perjanjian Lama mengenai Yesus Kristus. Beberapa penafsir menempatkan jumlah nubuat Mesianis pada angka ratusan. Berikut ini adalah nubuat-nubuat yang dianggap paling jelas dan penting. Mengenai kelahiran Yesus: Yesaya 7:14, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” Yesaya 9:6, “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Mikha 5:2, “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.”
Mengenai pelayanan dan kematian Yesus: Zakharia 9:9, “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” Mazmur 22:16-18, “Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.” Kemungkinan nubuat yang paling jelas mengenai Yesus, dan sudah pasti yang paling panjang, adalah keseluruhan pasal ke 53 dari kitab Yesaya. Yesaya 53:3-7, “ Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.”
Nubuat “tujuhpuluh tujuh” dalam Daniel pasal 9 menubuatkan tanggal yang persis di mana Yesus, sang Mesias akan “disingkirkan.” Yesaya 50:6 dengan akurat menggambarkan siksaan yang dialami oleh Yesus. Zakharia 12:!0 menubuatkan “ditikamnya” Mesias, yang terjadi setelah Yesus mati di atas salib. Masih banyak contoh yang dapat disajikan, namun apa yang ada sudah cukup. Perjanjian Lama sangat jelas menubuatkan kedatangan Yesus sebagai Mesias.

Rabu, 28 April 2010

Kapal Nabi Nuh telah ditemukan di Turki.......


 Dikisahkan, sekitar 4.800 tahun lalu, banjir bandang menerjang Bumi. Sebelum bencana mahadahsyat itu terjadi, Nabi Nuh — nabi tiga agama, Islam, Kristen, dan Yahudi, diberi wahyu untuk membuat kapal besar — demi menyelamatkan umat manusia dan mahluk Bumi lainnya.
Untuk membuktikan kebenaran cerita tersebut, kelompok peneliti dari China dan Turki yang tergabung dalam ‘Noah’s Ark Ministries International’ selama bertahun-tahun mencari sisa-sisa perahu legendaris tersebut.

Pada tgl, 26 April 2010 mereka mengumumkan mereka menemukan perahu Nabi Nuh di Turki. Mereka mengklaim menemukan sisa-sisa perahu Nabi Nuh berada di ketinggian 4.000 meter di Gunung Agri atau Gunung Ararat, di Turki Timur.
Mereka bahkan mengklaim berhasil masuk ke dalam perahu itu, mengambil foto dan beberapa specimen untuk membuktikan klaim mereka.
Menurut para peneliti, specimen yang mereka ambil memiliki usia karbon 4.800 tahun, cocok dengan apa yang digambarkan dalam sejarah.
Jika klaim mereka benar, para peneliti Evangelis itu telah menemukan perahu paling terkenal dalam sejarah.
“Kami belum yakin 100 persen bahwa ini benar perahu Nuh, tapi keyakinan kami sudah 99 persen,” kata salah satu anggota tim yang bertugas membuat film dokumenter, Yeung Wing, seperti dimuat laman berita Turki, National Turk, 27 April 2010.
Grup yang beranggotakan 15 orang dari Hong Kong dan Turki hadir dalam konferensi pers yang diadakan Senin 26 April 2010 .
Kepada media yang hadir saat itu, mereka juga memamerkan specimen fosil kapal yang diduga perahu Nuh, berupa tambang, paku, dan pecahan kayu.
Seperti yang dijelaskan para peneliti, tambang dan paku diduga digunakan untuk menyatukan kayu-kayu hingga menjadi kapal. Tambang juga digunakan untuk mengikat hewan-hewan yang diselamatkan dari terjangan bah — begitu juga dengan potongan kayu yang dibuat bersekat untuk menjaga keamanan hewan-hewan.
Penemuan besar ini jadi amunisi untuk mendorong pemerintah Turki mendaftarkan situs ini ke UNESCO — agar lembaga PBB itu ikut menjaga kelestarian perahu Nuh.
Awalnya, direncananya para arkeolog akan menggali perahu itu dan memisahkannya dari gunung. Namun, hal tersebut tak mungkin dilakukan, meski nilai sejarah penemuan ini sangat tinggi.
***
Gunung Ararat, lokasi penemuan perahu Nabi Nuh
Kapal Nabi Nuh Ditemukan
Diyakini, ketika air surut, perahu Nuh berada di atas Gunung. Meski tiga agama besar mengabarkan mukjizat Nabi Nuh, tak ada penjelasan sama sekali, di mana persisnya perahu itu menyelesaikan misinya.
Sejak lama penduduk lokal Turki yang tinggal di pegunungan maupun kota-kota lain percaya bahwa perahu Nabi Nuh berada di Gunung Ararat.
Apalagi, pilot pesawat temput Turki dalam sebuah misi pemetaan NATO, mengaku melihat benda besar seperti perahu di Dogubayazit, Turki.
Pada 2006, citra satelit secara detil menunjukan benda mirip kapal yang diduga perahu Nuh itu adalah gunung yang dilapisi salju.
Beberapa ahli lain berpendapat bahwa sisa-sisa perahu Nuh menjadi bagian dari pemukiman manusia — yang selamat dari bencana banjir bah.
Namun, peneliti yang mengklaim penemu perahu Nuh membantahnya. “Kami tak pernah menemukan ada manusia yang bermukim di ketinggian 3.500 meter dalam sejarah umat manusia.”
Cuaca sangat dingin di ketinggian 4.000 meter itu oleh para penemu diyakini menjaga kondisi perahu Nuh selama ribuan tahun.

Senin, 29 Maret 2010

Kertas dinding yang paling mahal


Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan - 1Kor. 3.6
Misionaris yang pertama di Korea adalah Robert J Thomas. Sejak kecil Thomas sudah ingin melayani Tuhan dan mulai berkhotbah di waktu usianya baru 15 tahun. Ia menyelesaikan studinya di London University di tahun 1863 dan ditahbiskan di gereja kecil di Hanover, Wales. Di tahun yang sama, Thomas dan istrinya diutus oleh London Missionary Society ke Shanghai, China. Istrinya, Caroline meninggal dunia tiga bulan setelah kedatangan mereka.
Setahun setelah itu Thomas meninggalkan pelayanan di Shanghai karena merasakan bahwa ladang yang belum terjangkau harus diberikan prioritas. Ia akhirnya menerima pengutusan ke Mongolia. Tapi saat menunggu keberangkatan ke Mongolia ia bertemu dengan dua pedagang dari Korea yang secara rahasia percaya pada Tuhan. Mereka membantunya masuk ke Korea selama beberapa bulan dan Thomas mempelajari sedikit bahasa Korea. Thomas kemudian kembali sebagai penerjemah untuk sebuah kapal Amerika yang  akan menyusuri Sungai Taedong. Dan di lokasi yang sekarang adalah ibu kota Korea Utara, Pyongyang, kapal itu terjebak di pasir. Tentara-tentara Korea di tepi sungai curiga dan ketakutan, mereka menaiki kapal sambil mengacungkan dan menodongkan pisau panjang.
Ketika Thomas melihat bahwa di akan dibunuh, dia mengangkat Alkitab berbahasa Korea ke arah mereka dan berkata, "Yesus, Yesus.’ Kepalanya dipenggal.
Dua puluh lima tahun setelah kematian Thomas, ada orang menemukan sebuah rumah penginapan kecil di daerah itu yang memiliki kertas pelapis dinding yang aneh. Kertas itu bertuliskan huruf-huruf Korea. Pemilik rumah itu menjelaskan bahwa dia telah menempelkan halaman-halaman buku itu ke tembok dengan tujuan untuk melestarikannya. Pemilik itu dan banyak tamunya memasuki rumah itu dan tinggal di dalam untuk membaca ‘dinding’ itu. Kertas-kertas itu adalah halaman-halaman Alkitab yang telah diberikan Thomas kepada para pembunuhnya.
Seringkali kita menabur dan menanam tapi kita tidak melihat hasilnya. Ingatlah bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang menjadikan segalanya tumbuh dan Tuhan pasti akan melanjutkan pekerjaan yang telah kita mulai.
-

Nikolai Khamara dr Rusia


Nikolai Khamara ditahan karena merampok dan dipenjarakan selama 10 tahun. Di dalam penjara, Khamara mengamati orang-orang Kristen dan merasa heran.
Mereka manusia juga, namun mereka menunjukkan suka cita di saat mereka seharusnya bersedih dan mereka menaikkan pujian sekalipun menghadapi kesusahan. Saat mereka mendapat sepotong roti, mereka membagikannya dengan orang yang tidak memperolehnya.
Wajah mereka tampak bersinar saat mereka berbicara kepada 'seseorang' yang tidak dapat dilihat oleh Khamara.
Suatu hari dua orang Kristen duduk di sebelah Khamara dan menanyakan kisah hidupnya. Khamara menceritakan kisah sedihnya dan mengakhiri ceritanya dengan berkata, "Aku adalah orang yang terhilang."
Salah satu dari orang Kristen itu tersenyum dan bertanya kepada Khamara, "Jika seseorang kehilangan sebuah cincin emas, berapakah nilai cincin emas itu ketika hilang?"
"Pertanyaan yang bodoh sekali! Sebuah cincin emas ya sebuah cincin emas. Kamu kehilangan cincin emas, tapi orang lain akan mendapatkannya. Nilainya tidak berubah"
"Jawabannya bagus sekali," kata orang Kristen itu. "Sekarang katakan, berapakah nilai seseorang yang terhilang?"
Orang Kristen itu melanjutkan, "Orang yang terhilang, seorang pencuri, pezinah, atau seorang pembunuh, memiliki nilai seorang manusia. Dia begitu bernilai sehingga Allah meninggalkan surga dan mati di atas kayu salib untuk menyelamatkan orang itu."
"Kamu mungkin terhilang, tapi kasih Allah telah menemukanmu," kata orang Kristen itu. 
Nikolai Khamara masuk penjara sebagai pencuri dan keluar sebagai seorang Kristen. Setelah dibebaskan, ia bergabung dengan gereja bawah tanah di Rusia.
Beberapa waktu kemudian, gembala gereja Khamara ditahan. Pihak berwenang menyiksanya dan berharap ia mengkhianati gereja, tetapi gembala itu tetap setia dan ia tidak membocorkan apapun.
Akhirnya pihak wewenang menangkap Nikolai Khamara.
Mereka membawa Khamara ke hadapan gembala itu dan mengatakan kepadanya, "Jika kamu tidak mengatakan rahasia itu, kami akan menyiksa Khamara di depan kamu."
Gembala itu tidak tahan melihat orang lain menderita baginya..
Namun Khamara berkata kepadanya, "Setialah kepada Kristus dan jangan mengkhianati Dia. Saya bahagia menderita demi nama Kristus."
Lalu mereka mencungkil mata Khamara.
Gembala itu tidak tahan. Ia menangis melihat Khamara. "Bagaimana saya sanggup melihat hal ini? Kamu jadi buta!"
Khamara menjawab, "Saat mataku diambil, aku melihat hal-hal yang lebih indah dari pada yang aku lihat dengan mataku. Aku akan melihat Sang Juru Selamat. Anda harus tetap setia kepada Kristus sampai akhir."
Saat para penginterogasi berkata kepada gembala bahwa mereka akan memotong lidah Khamara, Khamara berkata, "Pujilah Tuhan. Aku telah mengatakan perkataan-perkataan yang mulia. Dan jika kaliam mau, kalian dapat memotong lidahku sekarang."
Mantan pencuri ini akhirnya berhasil mencuri kesempatan untuk mati sebagai martir demi Kristus.
(Dikutip dari Devosi Total, The Voice of Martyr)

Missionaris memaafkan


Tiga orang Kristen dibunuh secara sadis pada tanggal 18 April 2007 di Malatya di wilayah Timur Selatan Turki dimana Tilmann Geske, 45 tahun, bekerja sebagai seorang penterjemah di Penerbit Buku Kristen Zirve.
Dua orang Kristen Turki - Necati Aydin (35) dan Ugur Yuksel (32) - juga ditemukan terikat dan tenggorok mereka dalam keadaan terobek. Menurut surat kabar Turki korban-korban itu disiksa secara brutal. Di tubuh Tilmann Geske ditemukan 156 luka tusukan pisau.
Dua tahun setelah kejadian tersebut Susanne Geske, istri kepada Tilmann muncul di acara televisi Turki dan memaafkan orang-orang yang membunuh suaminya, kesaksiannya terus mempengaruhi banyak orang sampai pada saat ini.
Susanne membagikan cerita yang menyedihkan ini dan bagaimana Tuhan telah membimbing dia selama dua tahun terakhir: "Saya hidup di Malatya, Turkey dan dua tahun yang lalu suami saya dan kedua temannya dibunuh di kantor mereka oleh lima orang nasionalis dan itu adalah saat-saat yang sangat mengejutkan saya, itu hari yang sangat mengerikan.
"Hari-hari itu saya berada di dunia yang berkabut dan saya benar-benar bingung. Tetapi setelah beberapa waktu saya sadar bahwa saya sekarang seorang diri lagi tetapi saya berpegang pada firman Tuhan dan mulai membaca firman Tuhan secara gila-gilaan dan saya hanya bergantung kepada-Nya.
Saya tidak pernah bertanya 'mengapa' tetapi saya berkata 'dia menaruh semuanya pada pundak saya maka sekarang saya harus memikulnya dan itu adalah tanggung jawab saya.
Dia mengambil suami saya dari kehidupan saya dan memberikan saya beban ini dan sekarang Tuhan telah menolong saya untuk memikulnya. Terkadang saya berdebat dengan Tuhan tetapi saya juga dapat merasakan kasih karunianya. Semua doa-doa orang-orang di seluruh dunia telah membantu saya dan anak-anak melewati saat-saat itu.
Ampuni mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan
Ibu dengan tiga orang anak ini diwawancarai oleh televisi Turki channel ATV yang dimana Susanne mengatakan kata-kata Yesus di kayu salib: "Bapa, ampuni mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan."
Susanne membagikan apa yang membawa dia untuk dapat mengatakan kata pengampunan yang luar biasa ini di televisi Turki: "Saya ditanya apakah saya ingin mengatakan sesuatu di media dan saya berpikir tidak, saya tidak ingin melakukan itu. Tetapi kemudian pendeta-pendeta di sana berkata mereka selalu ingin memiliki kesempatan untuk mengatakan sesuatu kepada penduduk di negara tersebut maka saya berpikir itu mungkin ada baiknya saya berkata sesuatu.
"Maka saya memanjatkan satu doa yang singkat dan kata-kata yang datang ke dalam pikiran saya adalah kata-kata yang Yesus ucapkan dari, 'Bapa maafkan mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.'
Saya berpikir ya itulah yang akan saya katakan. Seolah-olah adalah sesuatu dari surga yang menyampaikan kalimat ini kepada saya. Lalu saya berdiri dan menghadap ke orang-orang itu dan berkata: 'Baik saya akan melakukan apa yang telah dilakukan Yesus'. Itu adalah sesuatu cukup berani, untuk melakukan apa yang dilakukan oleh Yesus, memaafkan mereka, tapi saya melakukannya.  Setelah itu perasaannya datang."
Kuasa pengampunan
Para wartawan begitu terkejut. Seorang wartawan berkata kepada Susanne bahwa apa yang misionaris tidak dapat lakukan selama ribuan tahun telah Susanne lakukan dalam satu kalimat. Banyak sekali yang menanggapinya dengan positif.
"Saya tidak tahu apa yang ada di benak pembunuh-pembunuh itu karena saya tidak diperbolehkan berbicara kepada mereka tetapi pada hari pertama pengadilan salah satu pengacara datang kepada saya mewakili salah satu dari tertuduh tersebut dan meminta maaf."
Renungan pada peringatan tahun kedua
"Sebenarnya bagi saya ini bukanlah hari yang spesial karena setiap hari kami hidup tanpa suami dan ayah," Susanne menjelaskan pemikirannya mengenai peringatan tahun kedua akan kematian suaminya.
Dia menambahkan: "Saya melihat ke belakang selama dua tahun terakhir dan Tuhan sungguh baik dan berbelas kasihan kepada kami. Kami menjalani saat-saat yang indah di dalam kesusahan dan kepahitan. "Kami melewatinya dengan sangat baik dan saya berpikir ini semua karena doa. Ini satu-satunya yang membantu kami melewati masa-masa ini."
Susanne terus menjalani hidupnya: membesarkan anak-anaknya dan membangun kembali kehidupannya dan gerejanya. Ia juga menghadiri pengadilan pembunuhan suaminya. Susanne meminta agar orang-orang Kristen di seluruh dunia  berdiri dengannya: "Doakan agar kita dapat terus menjadi terang, dan dapat memiliki kesempatan untuk membagikan Firman Tuhan dan kita dapat terbuka dan membagikan tentang pengampunan."
"Untuk beberapa orang yang sedang bekerja sebagai misionaris di Turki saya ingin mengatakan kepada mereka bahwa 'Tuhan bersertamu dimanapun engkau berada maka janganlah takut untuk membagikan Firman apabila seseorang bertanya kepadamu mengenai iman engkau: engkau harus membagikannya."
(Diedit dari artikel Peter Wooding "Kekuatan dalam pengampunan dari Misionaris Jerman Susanne Geske"