Damai itu Indah..

Rabu, 13 Januari 2010

Masa Depan yang Gemilang..

Efesus 2:6-7 - "Dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus."
Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 13; Matius 13; Kejadian 25-26
Beberapa hari menjelang tahun 2010, diri saya menjadi begitu kuatir bukan karena ramalan dari "orang-orang pintar" yang muncul di televisi yang menyatakan bahwa di Indonesia akan terjadi musibah besar, tetapi karena ketidakpastian akan hari-hari yang saya jalani di depannya nanti. Hal itu begitu kuat mencekram kehidupan saya sehingga tanpa sadar sukacita dan damai sejahtera itu menjadi hilang.
Dalam kondisi ketakutan seperti itu, Tuhan menegur saya dengan firman-Nya yang tertulis di Efesus 2:6-7, "Dan di dalam Kristus Yesus....Ia....memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah..." Mata saya tercelik begitu membaca ayat ini. Saya sadar bahwa saya adalah anak-anak Allah yang telah dipegang hidupnya oleh-Nya. Dia telah berjanji bahwa saya akan memiliki masa depan gemilang dan itu pasti terjadi. Saat itulah saya bertobat dan mau membuat resolusi untuk dijalani pada tahun yang baru.
Mungkin diantara Anda saat ini ada yang begitu kuatir akan masa depan Anda, "Bagaimana saya nanti pada saat umur 50 tahun"; "Bagaimana nasib anak-anak saya yang masih kecil? Bisakah mereka meraih mimpi mereka?", percayalah Tuhan sangat tahu kehidupan kita. Dia-lah perancang terbaik yang tiada duanya di seluruh alam semesta ini. Masalah keuangan, pekerjaan, bisnis, masa depan anak-anak, Tuhan sudah mengaturnya dengan sempurna.
Masa depan yang ada di depan Anda adalah masa depan yang penuh dengan kegemilangan. Jangan takut!! Ketika Anda menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan maka Dia yang akan menuntun kehidupan Anda kepada rancangan-Nya yang indah.
Bersama Tuhan, masa depan hidup kita pasti luar biasa cerah.
Sumber: Dari Iman ke Iman; Kenneth & Gloria Copeland; Penerbit Immanuel


--
Posted

Film Passion Membakar Gairah


Total View : 3822 kali
 "Saya meninggalkan (film The Passion) dengan kesan yang mendalam tentang sakit yang amat sangat yang Yesus alami, khususnya perasaan sedih yang saya alami karena saya percaya dia mengalami hal itu untuk saya."

Badai kontroversi seputar film Mel Gibson tentang kematian Yesus telah menyentuh banyak aspek. Apakah film ini anti Semit atau anti Yahudi? Apakah terlalu penuh kekerasan untuk anak-anak? Maukah Mel Gibson membuat Yesus menikah?.

Wakil dari Liga Yahudi Anti Fitnah dan lembaga
Simon Wiesenthal Center mengkuatirkan adanya perasaan dan bahkan tindak kekerasan dari hasil provokasi anti Semit. Persiapan tayang film ini sendiri sebenarnya telah mengundang sambutan hangat dari pemimpin termasuk dari pihak Vatican dan Billy Graham. Sedang sisanya merasa skeptis.

Kebanyakan pusat kontroversi adalah pada dua pertanyaan seputar film dan sejarah yang dilukiskan film ini : Apakah orang Yahudi benar-benar bertanggung jawab atas kematian Yesus?. Dan jika benar, apakah semua orang Yahudi dengan cara itu bisa disebut "pembunuh Yesus?". Kelakuan buruk dari gerakan Anti Semit telah menodai dan membuat ketakutan yang tidak bisa dipahami ini menjadi amat beralasan.

Dibesarkan sebagai keturunan Yahudi di Miami, saya punya banyak teman Yahudi. Populasi Yahudi di Miami melebihi banyak kota di Israel. Teman sekelas saya semua berbicara tentang sekolah Ibrani Yahudi, sinagoge dan perayaan bar mitzvahs. Di sekolah kami menyanyikan lagu Hanukah dan juga lagu-lagu Natal Kristen. Tapi orang tua saya mengajarkan dan meneladani untuk memberi hormat dan toleransi. Gerakan Anti Semit bisa membuat darah saya mendidih.

Setelah menemukan iman sebagai seorang Kristen sewaktu menjadi mahasiswa universitas, saya menggali tentang anti Semit dalam kitab yang berhubungan dengan kematian Yesus. Yesus adalah seorang Yahudi, demikian juga dengan pengikutnya. Orang Yahudi yang menentang ajaranNya membuat barisan lain menentang orang Yahudi yang mendukung Yesus. Ini adalah sangat esensial sebagai konflik Yahudi dengan Yahudi. Satu faksi menekan Pilatus, seorang pemerintah Roma untuk mengeksekusi Yesus.

Pemimpin Yahudi tidak secara fisik menggantung Yesus di kayu salib, eksekutor Roma-lah yang melakukannya. Namun beberapa orang Yahudi menjadi bagian dari orang-orang yang bercampur baur itu.

Haruskah semua orang Yahudi dianggap atau disikapi bersalah atas eksekusi Yesus? Tentu saja tidak. Tidak juga semua orang Jerman dianggap bersalah untuk peristiwa pemusnahan massal atau Holocaust Nazi, tidak semua orang Kristen dianggap rasis atau Anti Semit, pedopilia, korupsi atau semua tindakan yang menyakitkan hati dianggap sebagai keKristenan. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk setiap keputusan yang kita ambil.

Namun ada sisi lainnya berkaitan dengan pertanyaan bersalah. Setelah saya berbicara di Universitas Miami dalam kelas antropologi, seorang mahasiswa menanyakan pada saya, apakah orang Yahudi bertanggung jawab atas kematian Yesus. Saya menjawab "Tentu saja Ya. Orang Yahudi bertanggung jawab untuk kematian Yesus. Demikian juga orang Kristen, Budha, Muslim, Hindu, atheis dan paham agnostik."

Yesus mengatakan Dia datang untuk menolong mengembalikan manusia pada Allah, "untuk memberikan hidupnya sebagai tebusan bagi banyak orang". Yesus percaya kematianNya akan membayar harga yang dibutuhkan untuk menyediakan penebusan untuk semua orang yang bersedia menerima diriNya, menjadi mempelai yang terikat hingga pada kekekalan.

Berdasarkan pada perspektif ini, kami - kita semua - dan semua kececatan yang kita miliki menjadi alasan untuk Yesus pergi ke kayu salib. Apakah kita bersalah secara fisik atas penyaliban Yesus? Tentu tidak. Namun apakah karena kita Dia menderita? Dengan alasan ini, jawabannya adalah "ya".

Demikian juga dengan film Mel Gibson. Tentunya kami membawa cara pandang kami pada tayangan ini. Saya mendapat kesan kuat dengan semua sakit mengerikan yang Yesus alami, khususnya yang membuat saya pedih adalah karena saya percaya Dia mengalami semua itu untuk saya.

Rembrant, pelukis terkenal Jerman melukis satu lukisan yang amat mengesankan tentang penyaliban. Dalam lukisan itu, beberapa orang menolong untuk meraih salib dimana Yesus tergantung dengan paku. Satu tekanan ringan dalam lukisan itu adalah satu wajah diantara orang yang mencoba meraih salib. Wajah itu adalah wajah Rembrant, gambaran diri pelukis itu sendiri. Pelukis ini percaya dirinya menjadi bagian alasan kematian Yesus.

Gibson mengatakan pada Associated Press : "Saya menemui point sulit dalam hidup dan perenungan saya tentang penderitaan Yesus, atas kasih pengorbananNya, mampukan saya melalui hal itu". Film dan kisah The Passion Of The Christ adalah pantas dan layak untuk didiskusikan diantara teman-teman anda, apapun imannya, bahkan diantara mereka yang tidak beragama.

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16)

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (Yesaya 53:5)

"Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah Rasul 4:12)(nat)

Sumber : Rusty Wright – Probe Ministries - CBN

Urbana Mission Conference,Melahirkan Generasi Baru Misionaris



WEDNESDAY, 13 JANUARY 2010
Total View : 201 kali
Lebih dari 16.000 mahasiswa berkumpul di St. Louis pada akhir tahun kemarin dari seluruh Amerika dan Kanada. Tujuan mereka: belajar lebih dalam tentang misi dan panggilan Tuhan dalam kehidupan mereka.
Mereka adalah bagian dari InterVarsity Christian Fellowship's 22nd Urbana Missions Conference.
"Pada konferensi Urbana ini yang Anda lihat adalah sejumlah besar mahasiswa yang serius pada iman mereka dan serius menanggapi bagaimana iman mereka bersentuhan dengan kebutuhan global," InterVarsity York More menjelaskan.
Hari-hari ini banyak anak muda yang berpikir tentang misi dengan cara-cara yang baru dan segar. Mereka peduli pada isu-isu keadilan sosial serta penginjilan. Mereka juga menyusun strategi bagaimana menjangkau komunitas lain yang bermunculan seperti komunitas Muslim dan gay.
Andrew Marin adalah presiden dan pendiri dari The Marin Foundation, sebuah organisasi non profit yag melayani komunitas gay.
"Mahasiswa adalah sebuah kelompok anak muda yang paling lapar untuk membangun jejaring dengan komunitas gay dan lesbian," ujar Andrew. "Karena keadaan ini harus mereka hadapi lima hari dalam seminggu, delapan jam dalam sehari ketika mereka berada di kampus, dimanapun mereka melangkah dan kemanapun mereka berpaling."
Lebih dari seribu mahasiswa mengikuti seminar yang diadakan oleh The Marin Foundation untuk menjangkau gay. Ribuan lainnya memilih untuk mengikuti seminar tentang isu keadilan sosial seperti masalah kemiskinan dan AIDS.
Bagi banyak orang, hal ini adalah kesempatan unik untuk mempelajari lebih lanjut akan kebutuhan global - dan di mana mereka bisa terlibat di dalamnya.
"Saya telah melakukan misi di Meksiko, saya begitu menikmatinya tapi saya merasa ada begitu banyak kebutuhan dari kota asal saya - terutama dengan para pengungsi," ujar Elaine, salah satu peserta Urbana.
Lisa berkata, "Saya hanya ingin mendapatkan apa yang harus saya fokuskan untuk langkah selanjutnya dan juga mendengar kesaksian dari orang lain yang telah pergi misi sebelum saya."
Pemimpin InterVarsity mengatakan mereka telah menantang para mahasiswa untuk berkomitmen pada minggu-minggu tersebut. Bagi sebagian orang, inilah pertama kalinya mereka memutuskan untuk menyerahkan hidup mereka bagi Kristus. Tapi bagi banyak yang lainnya, ini adalah sebuah komitmen untuk melakukan misi - dimanapun kehadiran mereka dibutuhkan.
Moore mengatakan, "Kita akan melihat bagaimana generasi mahasiswa dipanggil masuk ke dalam zaman misi modern."
"Pada konvensi ini," ujarnya, "Anda akan melihat para mahasiswa membuat keputusan di sepanjang perjalanan kehidupan mereka untuk membuat komitmen seumur hidup bagi misi."

Sumber : cbn.com / LEP


Wahyu Gabriel..cerita tentang Mesias sebelum Yesus.

Total View : 3943 kali

Sebuah batu sepanjang tiga kaki yang diberi nama "Wahyu Gabriel" ini memberi sebuah tantangan bagi iman orang Kristen tentang ide penyaliban Kristus. Menurut penelitian, batu itu ditulis hanya beberapa tahun sebelum kelahiran Yesus - Hal ini menurut salah satu sarjana Israel - bahwa di batu ini menuliskan tentang kebangkitan mesias setelah tiga hari dikuburkan. Jika hal ini benar, bisa jadi ada kemungkinan cerita tentang kebangkitan Yesus setelah penyaliban adalah sebuah rekayasa dari para pengikutnya saja. Bagaimanapun juga, ketika membaca 87 alinea di batu itu bisa menimbulkan berbagai interpretasi kreatif dan berbagai macam kemungkinan yang bisa saja membuat berbagai bukti tulisan dalam perjanjian baru diragukan.  Hal ini mungkin sebuah penemuan yang luar biasa, dan bukti yang spektakuler yang memicu diskusi hebat, tetapi pastinya tidak untuk menjatuhkan iman siapapun, demikian tulisan majalah TIME.
Berdasarkan hasil penelitian ahli manuscript kuno dan ahli kimia, tinta yang digunakan pada dokumen batu tersebut berasa pada periode kelahiran Yesus. Batu yang menimbulkan kontroversi tersebut adalah milik kolektor barang antic, orang Yahudi berkewarganegaraan Swiss. Beberapa sarjana menduga bahwa batu ini bagian dari gulungan dari laut mati, yang berhubungan dengan Yohanes Pembabtis. Pada tablet batu tersebut menuliskan tentang suara malaikat Gabriel; dalam salah satu alineanya, secara singkat dapat diartikan seperti ini, "Dalam tiga hari,  kejahatan akan dikalahkan oleh keadilan."
Seperti sebuah pewahyuan,  disana menuliskan sebuah figure penuh kejayaan yang dipanggil messiah (yang artinya, seorang yang diurapi), sesuatu yang tidak biasa, baik dalam dunia keagamaan maupun politik Yahudi pada abab 1 sebelum Masehi, di Palestina.  Tapi yang membuat Batu Gabriel itu unik adalah pada alinea ke 80, yang dimulai dengan kata, "Pada hari ketiga" dan juga termasuk didalamnya ada kata "hidup".
Israel Knohl, seorang ahli Talmud dan bahasa kitab dari Jerusalem's Hebrew University, yang pada riset pertama benda artifak ini tidak dilibatkan, meng-klaim bahwa tulisan itu ditujukan kepada cerita bersejarah pada abad pertama pemberontak Yahudi bermana Simon yang dibunuh oleh Roma pada tahun 4 Sebelum Masehi, dan cara membacanya adalah, "Dalam tiga hari, kamu harus hidup. Aku Gabrial memberi perintah kepadamu." Jika benar, pada era Yesus, bagi orang Yahudi telah terbangun ide tentang kebangkitan setelah tiga hari kematian, bahkan sebelum Yesus lahir.
Ide tentang kematian dan kebangkitan mesias muncul diberbagai teks Yahudi, tetapi hingga sekarang, setiap orang berpikir bahwa itu adalah dampak keKristenan pada Yahudiesm," ungkap Knohl. "Tetapi untuk pertama kalinya, kami memiliki bukti bahwa hal itu terbalik. Konsep itu sudah ada jauh-jauh hari sebelum Yesus ada."
"Jika begitu," dia menambahkan. "Hal ini akan menggoncang dasar-dasar pandangan tentang keKristenan. Apa yang terjadi di Perjanjian baru, (Kemungkinan besar) diadopsi Yesus dan para pengikutnya berdasarkan cerita tentang mesias yang sudah ada jauh-jauh hari sebelumnya." Demikian Knolt menyatakan pendapatnya kepada TIME.
Wetherington juga menggaris bawahi bahwa teks injil, jauh dari fakta yang tergambar dalam tablet batu Gabriel tersebut. Apa yang tertulis dalam injil adalah berdasarkan bukti penyaliban saat itu, dan kesaksian para saksi mata yang melihat Yesus setelah penyaliban. Witherington juga mencatat, kalaupun dirinya salah dan Knohl membaca dan mengartikan apa yang tertulis dalam batu itu dengan benar, berbagai kutipan injil juga mengarah pada Yesus yang telah menubuatkan sendiri tentang kematiandan penyalibannya, hal ini berdasarkan pengakuan para pengikutnya sendiri. Dalam peristiwa kebangkitan Yesus, sama sekali tidak ada perintah dari malaikat.
Namun bila bicara tentang Mesias yang akan menderita, disalib dan bangkit kembali, hal tersebut telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya dalam perjanjian lama. Dan bagi orang Kristen, tentu saja dipercayai hal ini ditujukan kepada Yesus.
Berbagai peristiwa beberapa tahun terakhir ini sepertinya mengguncang dunia keKristenan, dari peristiwa tentang ditemukan makam Yesus dan keluarganya, juga kotak-kotak tulang yang bertuliskan nama-nama kaum keluarga Yesus, dan sekarang adalah munculnya batu bertuliskan cerita tentang "Wahyu Gabriel" ini.  Namun semua itu, untuk menguji apakah iman kita sebagai orang percaya dapat dengan mudah digoncangkan atau, memang sudah berakar kuat dalam kebenaran sehingga dapat terus berdiri teguh.

Sumber : Time.com

Prediksi Franklin Graham di tahun 2010

TUESDAY, 13 JANUARY 2010
Total View : 720 kali

Penginjil asal Amerika Serikat, Franklin Graham mengatakan bahwa pada tahun 2010, orang Kristen yang memberitakan injil dan iman mereka akan menghadapi rintangan yang lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Saya percaya bahwa waktu semakin cepat bergulir dan saya pikir dalam di dalam masa hidup saya pemberitaan Injil akan disebut sebagai pidato kebencian," tulis Graham pada website Billy Graham Evangelistic Association.
Anak dari penginjil besar Billy Graham itu juga mengatakan pernyataan-pernyataan Alkitab tentang homoseksualitas, aborsi, dan isu-isu moral lainnya akan dilarang oleh "politik kebudayaan yang seharusnya."
Ia juga melihat nantinya para pengkhotbah di seluruh dunia akan menghadapi hukuman penjara karena mengajar Alkitab dimana ini sudah terjadi di beberapa negara. Walau pun begitu, Franklin Graham mengaku tidak akan gentar dan mundur dari pelayanannya selama ini, yakni memberitakan injil kepada setiap manusia.
Sebagai para pengikut Kristus sudah selayaknya kita berpegang teguh kepada firman-Nya dan bukan kepada ajaran-ajaran lain. Biarlah ketika Dia datang untuk kedua kalinya ke dunia, Dia menemukan setiap kita setia dan sedang mengerjakan pelayanan yang telah diberikan.

Sumber : cbn.com/