Damai itu Indah..

Senin, 29 Maret 2010

Kertas dinding yang paling mahal


Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan - 1Kor. 3.6
Misionaris yang pertama di Korea adalah Robert J Thomas. Sejak kecil Thomas sudah ingin melayani Tuhan dan mulai berkhotbah di waktu usianya baru 15 tahun. Ia menyelesaikan studinya di London University di tahun 1863 dan ditahbiskan di gereja kecil di Hanover, Wales. Di tahun yang sama, Thomas dan istrinya diutus oleh London Missionary Society ke Shanghai, China. Istrinya, Caroline meninggal dunia tiga bulan setelah kedatangan mereka.
Setahun setelah itu Thomas meninggalkan pelayanan di Shanghai karena merasakan bahwa ladang yang belum terjangkau harus diberikan prioritas. Ia akhirnya menerima pengutusan ke Mongolia. Tapi saat menunggu keberangkatan ke Mongolia ia bertemu dengan dua pedagang dari Korea yang secara rahasia percaya pada Tuhan. Mereka membantunya masuk ke Korea selama beberapa bulan dan Thomas mempelajari sedikit bahasa Korea. Thomas kemudian kembali sebagai penerjemah untuk sebuah kapal Amerika yang  akan menyusuri Sungai Taedong. Dan di lokasi yang sekarang adalah ibu kota Korea Utara, Pyongyang, kapal itu terjebak di pasir. Tentara-tentara Korea di tepi sungai curiga dan ketakutan, mereka menaiki kapal sambil mengacungkan dan menodongkan pisau panjang.
Ketika Thomas melihat bahwa di akan dibunuh, dia mengangkat Alkitab berbahasa Korea ke arah mereka dan berkata, "Yesus, Yesus.’ Kepalanya dipenggal.
Dua puluh lima tahun setelah kematian Thomas, ada orang menemukan sebuah rumah penginapan kecil di daerah itu yang memiliki kertas pelapis dinding yang aneh. Kertas itu bertuliskan huruf-huruf Korea. Pemilik rumah itu menjelaskan bahwa dia telah menempelkan halaman-halaman buku itu ke tembok dengan tujuan untuk melestarikannya. Pemilik itu dan banyak tamunya memasuki rumah itu dan tinggal di dalam untuk membaca ‘dinding’ itu. Kertas-kertas itu adalah halaman-halaman Alkitab yang telah diberikan Thomas kepada para pembunuhnya.
Seringkali kita menabur dan menanam tapi kita tidak melihat hasilnya. Ingatlah bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang menjadikan segalanya tumbuh dan Tuhan pasti akan melanjutkan pekerjaan yang telah kita mulai.
-

Nikolai Khamara dr Rusia


Nikolai Khamara ditahan karena merampok dan dipenjarakan selama 10 tahun. Di dalam penjara, Khamara mengamati orang-orang Kristen dan merasa heran.
Mereka manusia juga, namun mereka menunjukkan suka cita di saat mereka seharusnya bersedih dan mereka menaikkan pujian sekalipun menghadapi kesusahan. Saat mereka mendapat sepotong roti, mereka membagikannya dengan orang yang tidak memperolehnya.
Wajah mereka tampak bersinar saat mereka berbicara kepada 'seseorang' yang tidak dapat dilihat oleh Khamara.
Suatu hari dua orang Kristen duduk di sebelah Khamara dan menanyakan kisah hidupnya. Khamara menceritakan kisah sedihnya dan mengakhiri ceritanya dengan berkata, "Aku adalah orang yang terhilang."
Salah satu dari orang Kristen itu tersenyum dan bertanya kepada Khamara, "Jika seseorang kehilangan sebuah cincin emas, berapakah nilai cincin emas itu ketika hilang?"
"Pertanyaan yang bodoh sekali! Sebuah cincin emas ya sebuah cincin emas. Kamu kehilangan cincin emas, tapi orang lain akan mendapatkannya. Nilainya tidak berubah"
"Jawabannya bagus sekali," kata orang Kristen itu. "Sekarang katakan, berapakah nilai seseorang yang terhilang?"
Orang Kristen itu melanjutkan, "Orang yang terhilang, seorang pencuri, pezinah, atau seorang pembunuh, memiliki nilai seorang manusia. Dia begitu bernilai sehingga Allah meninggalkan surga dan mati di atas kayu salib untuk menyelamatkan orang itu."
"Kamu mungkin terhilang, tapi kasih Allah telah menemukanmu," kata orang Kristen itu. 
Nikolai Khamara masuk penjara sebagai pencuri dan keluar sebagai seorang Kristen. Setelah dibebaskan, ia bergabung dengan gereja bawah tanah di Rusia.
Beberapa waktu kemudian, gembala gereja Khamara ditahan. Pihak berwenang menyiksanya dan berharap ia mengkhianati gereja, tetapi gembala itu tetap setia dan ia tidak membocorkan apapun.
Akhirnya pihak wewenang menangkap Nikolai Khamara.
Mereka membawa Khamara ke hadapan gembala itu dan mengatakan kepadanya, "Jika kamu tidak mengatakan rahasia itu, kami akan menyiksa Khamara di depan kamu."
Gembala itu tidak tahan melihat orang lain menderita baginya..
Namun Khamara berkata kepadanya, "Setialah kepada Kristus dan jangan mengkhianati Dia. Saya bahagia menderita demi nama Kristus."
Lalu mereka mencungkil mata Khamara.
Gembala itu tidak tahan. Ia menangis melihat Khamara. "Bagaimana saya sanggup melihat hal ini? Kamu jadi buta!"
Khamara menjawab, "Saat mataku diambil, aku melihat hal-hal yang lebih indah dari pada yang aku lihat dengan mataku. Aku akan melihat Sang Juru Selamat. Anda harus tetap setia kepada Kristus sampai akhir."
Saat para penginterogasi berkata kepada gembala bahwa mereka akan memotong lidah Khamara, Khamara berkata, "Pujilah Tuhan. Aku telah mengatakan perkataan-perkataan yang mulia. Dan jika kaliam mau, kalian dapat memotong lidahku sekarang."
Mantan pencuri ini akhirnya berhasil mencuri kesempatan untuk mati sebagai martir demi Kristus.
(Dikutip dari Devosi Total, The Voice of Martyr)

Missionaris memaafkan


Tiga orang Kristen dibunuh secara sadis pada tanggal 18 April 2007 di Malatya di wilayah Timur Selatan Turki dimana Tilmann Geske, 45 tahun, bekerja sebagai seorang penterjemah di Penerbit Buku Kristen Zirve.
Dua orang Kristen Turki - Necati Aydin (35) dan Ugur Yuksel (32) - juga ditemukan terikat dan tenggorok mereka dalam keadaan terobek. Menurut surat kabar Turki korban-korban itu disiksa secara brutal. Di tubuh Tilmann Geske ditemukan 156 luka tusukan pisau.
Dua tahun setelah kejadian tersebut Susanne Geske, istri kepada Tilmann muncul di acara televisi Turki dan memaafkan orang-orang yang membunuh suaminya, kesaksiannya terus mempengaruhi banyak orang sampai pada saat ini.
Susanne membagikan cerita yang menyedihkan ini dan bagaimana Tuhan telah membimbing dia selama dua tahun terakhir: "Saya hidup di Malatya, Turkey dan dua tahun yang lalu suami saya dan kedua temannya dibunuh di kantor mereka oleh lima orang nasionalis dan itu adalah saat-saat yang sangat mengejutkan saya, itu hari yang sangat mengerikan.
"Hari-hari itu saya berada di dunia yang berkabut dan saya benar-benar bingung. Tetapi setelah beberapa waktu saya sadar bahwa saya sekarang seorang diri lagi tetapi saya berpegang pada firman Tuhan dan mulai membaca firman Tuhan secara gila-gilaan dan saya hanya bergantung kepada-Nya.
Saya tidak pernah bertanya 'mengapa' tetapi saya berkata 'dia menaruh semuanya pada pundak saya maka sekarang saya harus memikulnya dan itu adalah tanggung jawab saya.
Dia mengambil suami saya dari kehidupan saya dan memberikan saya beban ini dan sekarang Tuhan telah menolong saya untuk memikulnya. Terkadang saya berdebat dengan Tuhan tetapi saya juga dapat merasakan kasih karunianya. Semua doa-doa orang-orang di seluruh dunia telah membantu saya dan anak-anak melewati saat-saat itu.
Ampuni mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan
Ibu dengan tiga orang anak ini diwawancarai oleh televisi Turki channel ATV yang dimana Susanne mengatakan kata-kata Yesus di kayu salib: "Bapa, ampuni mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan."
Susanne membagikan apa yang membawa dia untuk dapat mengatakan kata pengampunan yang luar biasa ini di televisi Turki: "Saya ditanya apakah saya ingin mengatakan sesuatu di media dan saya berpikir tidak, saya tidak ingin melakukan itu. Tetapi kemudian pendeta-pendeta di sana berkata mereka selalu ingin memiliki kesempatan untuk mengatakan sesuatu kepada penduduk di negara tersebut maka saya berpikir itu mungkin ada baiknya saya berkata sesuatu.
"Maka saya memanjatkan satu doa yang singkat dan kata-kata yang datang ke dalam pikiran saya adalah kata-kata yang Yesus ucapkan dari, 'Bapa maafkan mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.'
Saya berpikir ya itulah yang akan saya katakan. Seolah-olah adalah sesuatu dari surga yang menyampaikan kalimat ini kepada saya. Lalu saya berdiri dan menghadap ke orang-orang itu dan berkata: 'Baik saya akan melakukan apa yang telah dilakukan Yesus'. Itu adalah sesuatu cukup berani, untuk melakukan apa yang dilakukan oleh Yesus, memaafkan mereka, tapi saya melakukannya.  Setelah itu perasaannya datang."
Kuasa pengampunan
Para wartawan begitu terkejut. Seorang wartawan berkata kepada Susanne bahwa apa yang misionaris tidak dapat lakukan selama ribuan tahun telah Susanne lakukan dalam satu kalimat. Banyak sekali yang menanggapinya dengan positif.
"Saya tidak tahu apa yang ada di benak pembunuh-pembunuh itu karena saya tidak diperbolehkan berbicara kepada mereka tetapi pada hari pertama pengadilan salah satu pengacara datang kepada saya mewakili salah satu dari tertuduh tersebut dan meminta maaf."
Renungan pada peringatan tahun kedua
"Sebenarnya bagi saya ini bukanlah hari yang spesial karena setiap hari kami hidup tanpa suami dan ayah," Susanne menjelaskan pemikirannya mengenai peringatan tahun kedua akan kematian suaminya.
Dia menambahkan: "Saya melihat ke belakang selama dua tahun terakhir dan Tuhan sungguh baik dan berbelas kasihan kepada kami. Kami menjalani saat-saat yang indah di dalam kesusahan dan kepahitan. "Kami melewatinya dengan sangat baik dan saya berpikir ini semua karena doa. Ini satu-satunya yang membantu kami melewati masa-masa ini."
Susanne terus menjalani hidupnya: membesarkan anak-anaknya dan membangun kembali kehidupannya dan gerejanya. Ia juga menghadiri pengadilan pembunuhan suaminya. Susanne meminta agar orang-orang Kristen di seluruh dunia  berdiri dengannya: "Doakan agar kita dapat terus menjadi terang, dan dapat memiliki kesempatan untuk membagikan Firman Tuhan dan kita dapat terbuka dan membagikan tentang pengampunan."
"Untuk beberapa orang yang sedang bekerja sebagai misionaris di Turki saya ingin mengatakan kepada mereka bahwa 'Tuhan bersertamu dimanapun engkau berada maka janganlah takut untuk membagikan Firman apabila seseorang bertanya kepadamu mengenai iman engkau: engkau harus membagikannya."
(Diedit dari artikel Peter Wooding "Kekuatan dalam pengampunan dari Misionaris Jerman Susanne Geske" 

Diculik di Manila

 Dalam Hidup Albert Lin
Albert Lin adalah misionaris yang melayani di Thailand beberapa tahun terakhir ini. Jika melihat ke belakang, apa yang sudah terjadi kelihatannya seperti tidak masuk akal. Inilah kisah tentang hari yang sangat bermakna dalam hidup Albert Lin.
"Kita akan mendarat di Bandara Internasional Ninoy Aquino. Selamat datang di Filipina!", pengumuman bergema di pengeras suara. Saat itu pukul 19.30 di hari yang panas di Manila tahun 1988. Hongkong sudah sangat panas, tetapi ternyata cuaca di Manila masih lebih panas. Sebuah tempat yang terkenal dengan penculikan sedang menunggu Albert.
Tahun itu sangat penuh dengan kejadian besar bagiku. Di awal tahun, saya menjalani operasi untuk membuang batu ginjal. Bekas lukanya masih terasa menyakitkan. Bahkan jika saya memakai jeans, rasa sakitnya menjadi tak tertahankan. Sesudah keluar dari rumah sakit, saya menjalani Intermediate Training (IT) dari Gereja Christian Gospel Disciples Churches. Saat itu saya belum menjadi anggota gereja tersebut. Sekitar pertengahan IT, gereja tempat saya beribadah mengadakan kemah kerja internasional di Manila dan saya dikirim sebagai perwakilan tunggal dari gereja saya. Walaupun saya sedang mengikuti IT, saya masih belum menyadari arti pentingnya Matius pasal 5 yang sudah kami pelajari saat itu dalam hidup saya.
Sambil membawa bagasi saya berjalan meninggalkan pesawat, melalui petugas imigrasi dan bea cukai. Karena hanya membawa sedikit perlengkapan untuk mengikuti kemah 14 hari, saya dapat segera keluar dari gedung dan bergegas menuju kerumunan penyambut, mereka yang menyambut kedatangan saudara atau kenalannya. Di dalam bandara, suasananya terang dan sejuk karena AC bekerja dengan baik. Di luar gedung, suasana lebih gelap dan panas. Walaupun suasana penyambutan sangat hangat, namun kegelapan malam itu mengingatkan saya akan kekuatiran saya yang utama: Saya baru keluar dari rumah sakit dan belum pulih sepenuhnya, saya tidak lancar berbahasa Inggris, ini adalah kedatangan saya yang pertama di Filipina, dan saya sendiri, tiada sanak saudara di sini. Dengan iman saya berangkat, dengan iman saya bertualang.
Tidak ada kenalan satupun, saya berharap akan ada seseorang dari perkemahan yang datang menjemput saya. "Nah, seseorang di sana melambaikan kertas bertuliskan ALBERT LIN (nama saya)." Kemudian saya berjalan mendekatinya. Sebuah pagar panjang yang terbuat dari baja membatasi kami. Kami berjabatan tangan melalui celah di antara pembatas tersebut. Orang itu berkata dia akan menemui saya di ujung pagar, sekitar 10 meter lebih dari tempat kami berdiri.
Saya lalu berjalan ke sana. Di pintu gerbang, empat anak muda menjabat tangan saya dan menawarkan untuk membawakan bagasi saya. "Mereka cukup baik dan ramah," pikir saya. Sesampainya di mobil, dua orang duduk di depan dan dua lainnya duduk di belakang mengapit saya. Sesudah mobil berjalan, kami mulai bercakap-cakap.
Orang yang duduk di kiri dan kananku menanyakan banyak hal. "Kurasa mereka sangat tertarik untuk mengenal saya lebih jauh lagi dengan mengajukan sekian banyak pertanyaan itu," saya pikir. "Namun jika mereka berasal dari perkemahan, mengapa mereka menanyakan hal-hal yang seharusnya mereka sudah tahu jawabannya? Terasa aneh. Ya sedikit aneh".
Lucu juga, mereka mulai merokok! Saya bertanya dalam hati, "Apakah mereka benar-benar orang Kristen? Apakah mereka...?" Saya berusaha menyingkirkan kecurigaan itu. Bagaimanapun juga, mereka masih muda. Maka saya hanya mencoba mengingatkan mereka bahwa merokok itu kebiasaan yang buruk dan merusak kesehatan. Mereka tertawa keras. Lalu mereka mulai berubah sikap. Pria yang duduk di kanan saya mencabut pisau. Saat itu, saya mulai yakin bahwa saya berhadapan dengan penjahat, bukan saudara-saudara dari perkemahan. Segera saya meminta pertolongan dari Tuhan. Sangat menakjubkan, di tengah situasi itu saya tetap merasakan ada damai di dalam hati. Saya sama sekali tidak menjadi takut. Ketika saya ingat-ingat kembali saat itu, memang benar-benar menakjubkan bahwa saya dapat begitu tenang menghadapi saat itu. Saya yakin bahwa Tuhan Yesus pasti ada bersama saya saat itu.
Kami berputar-putar melewati berbagai tempat. Satu ketika, mobil kami berhenti di lampu merah. Di sebelah kanan kami, tampak mobil polisi, saya dapat melihat beberapa polisi yang duduk di dalamnya. Ketegangan di dalam mobil kami meningkat, udara terasa sangat menyesakkan. Para penculik saya mangancam, "Jangan coba-coba melakukan hal yang bodoh". Lalu pisaunya diarahkan ke pinggul kanan saya. Saya katakan pada mereka agar tidak perlu kuatir, saya tidak akan berteriak. Polisi-polisi itu tidak tahu bahwa saya sedang diculik, tetapi Tuhan Yesus tahu dan Dia bersama saya saat itu.
Lalu kami menyusuri perladangan yang sunyi, tidak ada orang di sekitarnya. Mereka mulai merampok saya. Saya tidak membawa banyak uang, saya coba untuk menjelaskan pada mereka tentang tujuan saya datang ke Filipina - yaitu kemah kerja gereja. Selama pembicaraan, karena bahasa Inggris saya yang buruk, mereka mulai kesal pada saya, terutama karena saya terlalu sering mengucapkan kata "pardon?" (tolong diulang - pent.). Mereka tampaknya sangat ingin membunuh saya hanya untuk masalah ini saja (diluar persoalan minimnya uang yang mereka dapat dari saya). "Bahasa Inggris yang buruk kadang-kadang bisa membahayakan. Saya harus belajar bahasa Inggris lebih baik lagi nanti," kata saya dalam hati.
"Katakan yang sesungguhnya!" mereka menuntut, "Di mana uang kamu yang lainnya? Kamu pasti bawa banyak - kamu orang Hongkong!"
"Ada kertas di kantong saya yang akan menjelaskan bahwa saya datang untuk pertemuan jemaat. Ijinkan saya menunjukkannya pada kalian." Pisau itu bergeser mendekat ke arah saya. Saya mengeluarkan kertas itu dan menunjukkannya pada mereka. Orang itu tidak peduli dengan kertas yang saya tunjukkan. Dia membentak saya, "Saya tidak mau kertas: saya mau uang!" Diremasnya kertas itu dan dijejalkannya ke dalam kaos saya. Saya pikir ini adalah hal yang sangat aneh, biasanya orang akan membuang kertas itu pada saat seperti ini. Karena tindakannya yang aneh itulah, saya yakin bahwa Tuhan Yesus mengendalikan situasi sepenuhnya. Saya menjadi sangat yakin bahwa saya tidak akan mati saat itu, lalu saya tersenyum.
Karena saya tersenyum, mereka menjadi semakin marah. "Oh, saya senyum pada saat yang salah!", saya pikir. "Kenapa kamu senyum? Kenapa senyum? Kamu pasti sembunyikan uang yang lain!" lalu mereka mengeledah saya sekali lagi, lagi, dan lagi. Mereka tidak menemukan apa-apa, semuanya sudah saya serahkan pada mereka - passport, tiket, dompet, kamera dan arloji saya. Saya pikir saya tidak akan mendapatkan bagasi saya lagi.
Mobil kami berhenti di jalan yang gelap dan sempit. "Apakah mereka akan membunuh saya di sini?", saya bertanya dalam hati. Saya disuruh turun dari mobil, namun saya lalu teringat pada palajaran yang saya dapat  dalam IT sebelum saya berangkat ke Filipina. Tantang prinsip-prinsip dalam situasi yang luar biasa. Dan sekarang ada kesempatan untuk mempraktekkan pelajaran tersebut.
"Tunggu!" saya berseru sebelum saya turun dari mobil, "Masih ada satu hal yang bisa saya berikan." Mereka sangat terkejut. Pistol mereka teracung ketika mereka melihat saya meraih sesuatu di balik baju saya. "Saya mau memberikan ini pada kalian," saya berkata dengan tenang. Saya terus berdoa kepada Tuhan sepanjang kejadian itu, jadi, walaupun gelisah, saya tetap peka terhadap petunjuk Tuhan. Lalu saya mencopot sabuk saya. Sebuah sabuk kulit dengan kepala berwarna emas.
"Ini Goldlion. Merek yang sangat terkenal."
Mereka berempat sangat terkejut. Mereka terdiam beberapa saat, seperti tersihir oleh tindakan saya menawarkan sabuk ini, mulut mereka ternganga.
"Ambillah! Ini Goldlion."
Tersentuh oleh tindakan yang aneh dan membingungkan ini, salah satu dari mereka mengambil sabuk saya dan menyuruh temannya untuk mengembalikan passport dan tiket saya.
Lalu pria yang duduk di sebelah kanan saya turun dari mobil. Saya mengikutinya turun sambil memegang passport dan tiket saya. Mereka sudah mengambil semua barang saya yang lain. Pria yang turun bersama saya mengacungkan pistolnya ke arah saya. Tapi saya percaya - dalam Tuhan - bahwa dia tidak akan membunuh saya. Dan benar, dia tidak membunuh saya. Dia menyuruh saya untuk berjalan lurus tanpa menoleh ke belakang dan tidak boleh berlari. Lalu mereka masuk ke dalam mobil dan pergi, meninggalkan saya di tengah perladangan yang tampaknya tiada batas ini.
Saya mulai berjalan, berapa jauh jarak yang saya tempuh saya sudah tidak ingat lagi. Suasana sangat gelap saat itu. Lalu saya bertemu seorang pemuda. Saya ingin minta tolong, tetapi saya ragu apakah orang ini penjahat atau bukan.
"Jangan rampok saya! Saya barus aja dirampok! Tolonglah saya!" Dia mengisyaratkan bahwa dia ingin menolong saya, tapi bagaimana? Lalu saya teringat: para penculik tidak mengambil kertas yang berisi informasi tentang perkemahan yang akan saya ikuti; mereka menjejalkannya ke dalam kaos saya! Di dalamnya ada nomor telepon penyelenggara perkemahan! Apakah suatu kebetulan bahwa salah satu dari mereka mengembalikan kertas itu dengan memasukkannya ke dalam kaos saya? Tentu saja tidak!
Lalu kami menumpang jeepney (jeep Amerika yang dirancang ulang untuk menjadi kendaraan angkutan dengan kapasitas ± 16 orang), berkeliling kota hanya untuk mencari telepon umum. Di Hongkong, kita dapat menjumpai telepon di setiap sudut kota, di Manila sangat sulit, apalagi di tengah malam seperti ini. Namun saya masih merasa sangat beruntung. Mengapa? Karena dalam petualangan kami mencari telepon, kami memasuki toko-toko dan, bahkan, bar dan nightclub. Kadang kami menumpang jeepney yang lain menjelajahi sudut lain kota Manila untuk mencari telepon. Jadi, saya mendapat kesempatan untuk melihat kehidupan malam di Manila, bahkan di hari pertama kedatangan saya, dan gratis, hanya karena sulitnya menemukan telepon! Pengalaman yang sangat bernilai bagi saya sehingga saya berpikir, "Tuhan Yesus begitu baiknya kepada saya. Untuk kedua kalinya Dia menunjukkan pada saya bahwa masyarakat di sini membutuhkan Injil." Belakangan, saya mengetahui bahwa tempat saya dirampok dan perkemahan ternyata cukup dekat. Lalu mengapa saya harus bertemu anak muda ini dan berkeliling kota Manila serta melihat kehidupan malamnya? Tepatnya, untuk kedua kalinya Tuhan membuka mata hati saya bahwa tempat ini sangat membutuhkan Kabar Baik tentang Yesus Kristus.
Sepanjang perjalanan mencari telepon untuk mengontak kordinator perkemahan, saya dan pemuda itu terlibat dalam percakapan panjang. Pada satu ketika dia berkata, "Anda sangat beruntung. Biasanya sesudah mereka menculik turis untuk dirampok, mereka membunuh korbannya." Dia berbicara seolah hal itu sudah menjadi hal yang wajar saja. Namun saya tertegun. Saya tidak dapat berjalan beberapa saat setelah dia berkata demikian, karena kaki saya gemetar tanpa henti. Pada saat itu, saya menyadari betapa nyata dan besar kuasa Tuhan dalam hidup saya.
Akhirnya, sekitar pukul 11 malam itu, sesudah petualangan panjang mencari telepon, saya berhasil mengontak kordinator perkemahan. Dia segera menjemput saya dan membawa saya ke perkemahan. Dia sangat kuatir karena saya menghilang begitu saja sesudah berjanji untuk bertemu di pintu gerbang bandara tadi. Dia sudah mencoba berbagai cara untuk menemukan saya, namun bagaimana mungkin menemukan orang yang hilang karena diculik seperti saya?
Karena malam sudah larut, semua orang di perkemahan sudah tertidur, tidak mengetahui petualangan saya hari itu. Saya diantar ke sebuah tempat tidur yang kosong, lalu saya segera berbaring dan tidur,  pulas dan nyaman sesudah melewati hari yang tak terlupakan.
Pengalaman hari itu meneguhkan tekad dalam hati saya, "Saya harus belajar Alkitab dengan baik. Suatu hari nanti saya akan datang dan melayani orang-orang Filipina, karena mereka benar-benar membutuhkan keselamatan dari Tuhan". Itu sebabnya sesudah Pelatihan Tim yang ke-6, saya mengajukan diri untuk pergi ke Filipina. Baru-baru ini, saya melayani di Nepal. Mudah-mudahan suatu hari nanti saya dapat pergi ke Filipina, kalau Tuhan memimpin saya ke sana

Dapatkah kita merubah diri kita sendiri

Leo Tolstoy, novelis Russia yang terkenal dengan novel realis-nya War and Peace dan Anna Karenina pernah berkata bahwa banyak orang mencoba mengubah dunia, tetapi mereka lupa mengubah diri mereka sendiri. Tolstoy sendiri berhasil mengubah dunia sastra dan Rusia lewat revolusi sosial dan reformasi religius. Tetapi apakah ia berhasil mengubah dirinya?
Perjalanan spiritual Tolstoy yang panjang dan berliku-liku bermula setelah kematian saudaranya yang membuatnya bertanya, "Apakah ada makna di dalam kehidupanku yang dapat mengalahkan maut yang sedang menanti? Sekalipun sudah menjadi penulis Rusia yang terkenal dan mencapai segala yang ia pernah impikan, tetapi Tolstoy tidak bahagia, "Walaupun buku-bukuku telah menjadikanku seorang selebriti aku bertanya kepada diriku sendiri, 'Baik, sekarang kamu sudah menjadi lebih terkenal dari Gogol, Pushkin, Shakespeare, Moliere dan semua penulis di dunia, lalu apa?'"
Di usianya yang ke 51 ia menjadi begitu depresi hingga ia harus menyembunyikan tali-tali tambang dan senjata api di rumahnya agar ia tidak tergoda untuk bunuh diri. Seperti kebanyakan orang di zamannya, ia percaya bahwa pengetahuan akan menyediakan jalan keluar dari penderitaannya.
Lalu, Tolstoy mulai dengan rajin membaca karya-karya ilmu pengetahuan dan filsafat. Ia bertanya dan menulis surat kepada banyak tokoh-tokoh di zamannya, tetapi ilmu pengetahuan, filsafat atau apa pun tidak menyediakan jawaban yang dicarinya. Dari sini bermulalah tahap kedua dari pencariannya, Tolstoy mulai mendalami studi akan Budhisme, Islam dan Kekristenan. Ia akhirnya tiba kepada kesimpulan bahwa solusi kepada "masalah kehidupan" dapat ditemukan di dalam kata-kata dan ajaran Yesus tetapi bukan pada doktrin ataupun penyimpangan yang ada di gereja pada waktu itu.
Suatu hari di musim semi saat ia sedang berjalan-jalan di hutan, Tolstoy mengambil satu langkah iman. Allah, katanya adalah seperti vodka, harus ditelan dengan sekali tegukan tanpa terlalu memikirkannya. Di dalam buku catatannya, Tolstoy menulis, "Saat aku memikirkan Tuhan, gelombang sukacita membanjiri diri aku. Segala sesuatu menjadi hidup dan berarti. Mempercayai-Nya, aku hidup. Melupakan-Nya, aku mati."
Tolstoy menghabiskan  tahun-tahun terbaik dalam hidupnya untuk membuat perenungan dalam bidang agama. Beratus-ratus halaman buku catatannya penuh dengan tulisan-tulisan yang bersifat rohani yang ditulis setiap hari. Ia juga menulis buku-buku yang mengulas keyakinan-keyakinan agamanya dengan terperinci. Hal ini sangat mengecewakan para pengulas maupun pembaca sastra yang mendambakan lebih banyak novel yang sangat bagus dirinya.
Setelah menjadi seorang Kristen, Tolstoy menjadi sangat tidak tenang dengan kenyamanan dan kemewahan kehidupannya selama ini. Keinginannya untuk hal-hal materil dan cita-cita pribadinya menimbulkan konflik batin di dalam dirinya. Keseriusannya meresponi ajaran Yesus, membuatnya melakukan hal-hal yang revolusioner.
Yesus berkata kepada orang muda yang kaya, "Juallah segala milikmu dan berikan kepada orang miskin, dan engkau akan memiliki harta di Surga." Setelah membaca ayat tersebut, Tolstoy membebaskan para budak pengolah tanahnya, menyerahkan harta miliknya kepada orang lain dan menjual perkebunannya yang luas. Untuk menyamakan dirinya dengan orang kebanyakan, ia mengenakan pakaian petani, membuat sepatunya dengan tangan sendiri, dan mulai bekerja di ladang. Namun upaya-upaya Tolstoy untuk bersikap jujur dan membuat pembaruan menimbulkan persoalan tanpa akhir di dalam keluarganya sendiri. Apa yang Tolstoy lakukan sebagai langkah-langkah menuju hidup kudus dinilai oleh Sonya, istrinya, sebagai kebodohan dan pelecehan terhadap keluarga. Pendapatan keluarga semakin berkurang dan karena ia menyerahkan hak cipta buku-bukunya kepada orang lain membuatnya tidak dapat mewariskan apa-apa bagi anak-anaknya. Di dalam buku catatannya, Tolstoy menulis bahwa istrinya menghambat dia dalam memenuhi keinginannya untuk hidup kudus dengan mendesaknya agar menjalani hidup "normal".
Sampai menjelang kematiannya, Tolstoy sendiri menilai bahwa ia telah gagal untuk mencapai kesempurnaan. Buku-buku catatannya berisi tema-tema penyesalan bahwa ia telah gagal untuk menjembatani cita-cita Injil, utamanya Khotbah di Bukit dengan keseharian hidupnya. Ia merasa telah gagal untuk mempraktekkan apa yang dikhotbahnya. Kebaikan dan kekudusan yang coba dipraktekkannya tidak lahir dari hatinya tetapi dari prinsip-prinsip semata.
Memang banyak yang menilai bahwa Tolstoy telah berusaha tetapi gagal untuk menerapkan hukum moral yang ideal ke dalam dirinya. Membaca tulisan akan kegagalannya membangkitkan lebih banyak keputusasaan dibanding pengharapan. Karena jika Tolstoy nyaris tidak dapat menolong dirinya, bagaimana mungkin ia diharapkan dapat membantu kita?
Menjelang akhir hayatnya, Tolstoy menanggapi kritikan terhadapnya dengan menulis, "Seranglah aku, aku pun menyerang diriku sendiri. Seranglah aku, jangan serang jalur yang kuikuti dan yang kutunjukkan kepada setiap orang yang menanyai aku di mana letak jalur itu. Seandainya aku tahu jalan pulang dan aku berjalan mengikutinya dengan mabuk, apakah jalan itu menjadi kurang tepat karena aku limbung!"
Memang diperlukan ketajaman persepsi untuk dapat memisahkan di antara cita-cita Injil dari kelemahan-kelemahan para pengikut Injil. Setiap kali kita melihat jurang di antara keduanya, kita akan tergoda untuk meninggalkan apa yang Injil ajarkan karena kita menyimpulkan bahwa itu tidak mungkin diraih. Mungkin lebih mudah untuk kita berkata kepada orang yang mengkritik kita, "Seranglah aku, janganlah serang jalur yang aku ikuti."
Mahatma Gandhi yang menemukan inspirasi untuk prinsip-prinsip anti-kekerasan dari buku Tolstoy, The Kingdom of God is Within You, justru memberikan tantangan kepada kita lewat komentarnya, "Jika saja setiap orang Kristen hidup sesuai dengan ajaran Injil, maka tidak akan ada orang yang tidak percaya."
Philip Yancey di dalam bukunya Soul Survivor dengan tepat mengungkapkan sumber kegagalan Tolstoy, "Yang menyedihkan, Tolstoy tidak pernah mengizinkan Injil menghadirkan penghiburan di dalam hidupnya. Ia tidak mampu mengambil langkah lebih jauh untuk mempercayai kasih karunia Tuhan guna mengatasi kegagalannya itu." Demikianlah hanya sekadar mengandalkan prinsip-prinsip dan doktrin-doktrin semata dan tanpa kasih karunia dari Tuhan, memang mustahil kita dapat menggenapi cita-cita Injil di dalam hidup kita.
Tolstoy sebagaimana yang diakuinya memang telah gagal mengubah dirinya sendiri karena tidak kira sekeras mana kita mencobanya, harimau tidaklah dapat mengubah belangnya (Yer.13.23). Hanya Tuhan yang dapat mengubah kita. Di matanya sendiri Tolstoy menilai bahwa dirinya telah gagal tetapi sejarah tidaklah menilai demikian karena kejujuran dan upayanya untuk mengejar iman yang sesungguhnya tetap menjadi inspirasi bagi banyak orang sampai ke hari ini.

86 Tahun aku mengikutNya

Polykarpus sedang berdoa di dalam kamarnya di loteng ketika pasukan bersenjata lengkap datang mengepung rumah kecil di perkebunan terpencil itu. Rupa-rupanya salah satu pelayan yang pernah melayaninya telah membocorkan tempat persembunyiannya setelah disiksa dengan kejam oleh tentara Romawi.
Polykarpus yang berusia 86 tahun pada waktu itu dengan tenang turun ke ruang bawah dan para prajurit yang ditugaskan untuk menangkapnya langsung kaget karena mereka tidak tahu bahwa Polykarpus yang sedang diburu dengan gencar oleh pihak Romawi itu adalah seorang yang sudah begitu lanjut usianya. Dalam hati mereka bertanya-tanya ada apa dengan orang tua ini yang membuatnya begitu dibenci oleh pemerintah Romawi.
Polykarpus lalu meminta pelayan-pelayannya untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk menjamu tamu yang tidak diundangnya itu. Ia juga meminta diberikan waktu 1 jam untuk berdoa tanpa diganggu.
Polykarpus tidak mendoakan dirinya tetapi menaikkan doa syafaat bagi orang lain. Namun karena terlalu banyak orang yang didoakan oleh Polykarpus, ia baru menyelesaikan doanya setelah dua jam. Akhirnya ia dibawa ke kota dan disambut oleh kepala keamanan kota yang bernama Herod dan ayahnya, Nicetes.
Herod dan Nicetes membawa Polykarpus ke dalam kereta kuda mereka dan dengan lembut coba membujuk Polykarpus.  "Apa salahnya untuk mengatakan bahwa Kaisar adalah Penguasamu, dan menyembahnya?" Segala macam cara mereka pakai untuk membujuknya, tetapi Polykarpus berkata, "Aku tidak akan melakukan apa yang engkau minta."
Karena tidak berhasil, Polykarpus akhirnya didorong dengan kasar dari kereta kuda dan diseret ke stadion tempat para pemimpin Romawi sedang menantinya. Setelah memastikan identitas Polykarpus, Pemimpin Romawi itu dengan lembut coba membujuknya untuk menyangkal Kristus, "Pikirkanlah tentang usia engkau, akuilah kebesaran Kaisar dan bertobatlah. Kutuklah Kristus, dan kami akan membebaskan engkau; Katakanlah engkau tidak ada hubungan apa-apa dengan Dia."
Polykarpus lalu menjawab, "Aku telah mengikuti Dia selama 86 tahun, dan Dia tidak pernah berbuat salah terhadap aku. Bagaimana mungkin aku menista Raja yang telah menyelamatkan aku?"
Walaupun jengkel dan marah tetapi mungkin karena usia tuanya, mereka terus membujuknya, "Bersumpahlah oleh kebesaran Kaisar." Polykarpus hanya berkata, "Tidakkah engkau tahu bahwa aku adalah seorang Kristen, jika engkau mau mendengarkan kebenaran Kekristenan, berilah aku waktu dan tempat untuk menjelaskan."
Jawaban Polykarpus semakin membuat semua yang mendengarkan menjadi berang. "Hewan-hewan buas yang kelaparan sudah disiapakan, jika engkau tidak mau 'bertobat' dari ketidakpercayaan engkau kepada Kaisar engkau akan dilemparkan untuk dimakan hewan-hewan buas itu!
Polykarpus menjawab, "Silakan, karena kami tidak terbiasa bertobat dari apa yang baik demi sesuatu yang jahat."
Lalu diumumkan sebanyak tiga kali kepada orang banyak yang sudah berkumpul di stadion, "Polykarpus telah mengaku bahwa ia adalah seorang Kristen." Seluruh stadion mulai berteriak-teriak meminta pemimpin Romawi melepaskan singa lapar ke tengah stadion untuk memangsa Polykarpus. Tetapi karena pada waktu itu tidak memungkinkan untuk acara gladiator dan singa, diputuskan bahwa Polykarpus akan dibakar.
"Apakah engkau sungguh tidak mau bertobat? Engkau akan kami jatuhkan hukuman mati dengan dibakar sampai hangus."
Kata Polykarpus, " Engkau mengancam aku dengan api yang hanya akan membakar paling lama satu jam, setelah itu apinya padam. Tapi engkau sendiri bodoh dengan tidak menyadari tentang api penghakiman yang kekal, yang telah dipersiapkan untuk orang-orang yang tidak percaya. Apa lagi yang engkau tunggu? Lakukanah apa yang engkau mau lakukan!"
Mendengarkan itu, orang banyak yang bagaikan dirasuk setan mulai mengumpulkan kayu dan bahan-bahan kayu dari toko-toko dan tempat permandian umum. Dengan cepat tumpukan kayu sudah terkumpul. Polykarpus lalu menanggalkan jubahnya dan melonggarkan pakaiannya, dan ia coba juga untuk menanggalkan sepatunya.
Di saat ada yang mau memakukan kaki dan tangannya ke atas kayu supaya ia tidak akan coba melarikan diri waktu api mulai memanas, Polykarpus berkata, "Biarkan saja; jika Tuhan memberi aku kekuatan untuk dibakar di dalam api ini, Ia akan memampukan aku untuk tetap bertahan di atas gumpalan api ini." Lalu mereka tidak jadi memakunya tetapi sekadar mengikat tangannya di belakang seperti seekor domba yang akan dibawa ke tempat sembelihan.
Lalu Polykarpus menaikkan doanya yang terakhir, "Aku bersyukur Engkau telah mengaruniakan kepada aku hari ini dan saat ini, di mana aku dapat mengambil bagian di antara para martir untuk dibangkitkan kepada hidup yang kekal oleh Roh Kudus, dalam jiwa dan tubuh yang tidak akan dikorupsi lagi. Semoga aku akan diterima di dalam hadirat Engkau hari ini, sebagai persembahan yang berkenan yang telah Engkau persiapkan. Engkaulah Tuhan yang setia dan benar."

Demikianlah pada jam 2 siang, tanggal 23 Februari di tahun 155, Polykarpus, yang ditahbis menjadi uskup gereja di Smyrna oleh rasul Yohanes sendiri, mati sebagai martir bagi Kristus.
Catatan tentang kemartiran Polykarpus, yang merupakan suatu fakta sejarah ditemukan di antara surat-surat Ireneus yang merupakan murid Polykarpus.
Polykarpus seperti juga banyak orang percaya di zaman ini, mampu untuk mati bagi Kristus karena ia hidup untuk Kristus. Hidupnya secara radikal ditransformasi oleh pekerjaan Roh Kudus - keinginan, kekhawatiran, rasa sakit dan rasa takut tidak lagi mengikatnya. Kehidupan dan kematian Polykarpus merupakan inspirasi bagi semua orang percaya. Ia menyerahkan hidup duniawinya bagi Kristus dan di dalam pengorbanannya, ia memperoleh hidup yang kekal.
-as

Jhon Paton,pengabar Injil pada suku kanibal

pada tahun 1987, Dave Dever, seorang pekerja serabutan diminta untuk membantu mengangkut barang-barang untuk dibuang ke tempat pembuangan sampah. Sebuah kardus berisi buku-buku lama menarik perhatiannya.
Ia berpikir, "Apakah saya harus membuangnya atau menyimpannya?"
Ia kemudian memutuskan untuk membawanya pulang. Sesampainya di rumah ia menyimpannya di gudang dan melupakan buku-buku itu. Hanya pada musim dingin berikutnya, ia melihat kardus buku itu dan memutuskan untuk membakarnya di tempat perapian. Istrinya, Abby, melarang dia membakar buku-buku tersebut. Salah satu buku yang diselamatkan dari jilatan api itu  adalah biografi seseorang yang bernama John Paton yang berlayar ke sebuah pulau bernama Vanuatu di kepulauan Pasifik pada tahun 1858.
Buku tentang John Paton dan pengalaman hidupnya bersama suku kanibal meninggalkan kesan yang mendalam di dalam kehidupan Dave and Abby. Setelah berkali-kali membacanya, mereka tergerak untuk berbuat sesuatu bagi penduduk di situ. Walaupun mereka bukan orang berada, mereka melakukan pelbagai usaha, termasuk menjual sofa, tempat tidur, mesin cuci, meja dan kursi milik mereka di Kanada untuk membantu orang-orang di Vanuatu.
Siapakah John Paton yang walaupun telah meninggal 100 tahun sebelumnya tetapi dapat terus menginspirasi keluarga Dever untuk begitu berapi-api membantu satu suku yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya?
John Paton lahir di Skotlandia pada tahun 1824, di sebuah keluarga miskin yang kedua orang tuanya sangat mengasihi Tuhan. Setiap kali sehabis makan malam, ayahnya pasti akan masuk ke kamar yang hanya sebesar lemari dan memanjatkan doa kepada Tuhan. Sejak kecil ia sudah tahu bahwa di saat-saat itu, dia dan adik-adiknya tidak boleh berisik. Kesaksian kedua orang tuanya yang cemerlang meninggalkan kesan yang sangat mendalam di dalam kehidupan Paton. Di usia yang sangat muda, Paton sudah memutuskan untuk memberikan hidupnya bagi pelayanan Tuhan.
Ketika berusia 12 tahun, Paton putus sekolah dan bekerja untuk membantu keluarganya. Tetapi hal itu tidak menghalanginya untuk terus mempersiapkan diri untuk pelayanan Tuhan. Ia dengan tekun mempelajari bahasa Latin dan Yunani setiap hari walaupun ia harus bekerja dari jam 6 pagi hingga 10 malam. Tuhan terus memimpinnya dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain, dan sepanjang masa itu Paton dengan gigih berusaha mengimbangi pekerjaan dan studinya. Akhirnya setelah 10 tahun, ia lulus dari Universitas Glasgow dan sekolah Teologia. Ia juga sempat mengambil kursus medis di sebuah akademi.
Pada waktu itu, organisasi di gerejanya telah dua tahun berturut-turut mengiklankan lowongan untuk mencari misionaris ke kepulauan Vanuatu tetapi masih belum berhasil mendapatkan calon yang tepat. Paton merasa Tuhan berbicara kepadanya untuk melamar posisi itu. Paton menulis, "Saya melamar untuk misi ke Vanuatu dan setelah itu saya kembali ke kamar dengan hati yang damai, suatu hal yang sudah lama tidak saya nikmati. Tidak ada hal lain yang begitu menyenangkan dibandingkan dengan keputusan untuk maju melakukan apa yang Anda tahu sebagai kehendak Tuhan."
Mendengar keputusan Paton untuk meninggalkan Skotlandia demi melayani suku kanibal di kepulauan Pasifik, gereja tempatnya melayani tidak mau melepaskan Paton. Mereka langsung menawarkan kepadanya untuk mengambil alih sebuah Jemaat yang besar dengan gaji yang besar. Seorang penatua terus-menerus berkata kepadanya, "Mereka itu kanibal! Engkau akan dimakan oleh kanibal!!" Gerejanya memberitahu dia, "Tempat inilah yang paling bagus untukmu, karena Tuhan telah memberkatimu dengan kelayakan yang diperlukan dan telah begitu memberkati pelayananmu. Engkau hanya akan menyia-nyiakan hidupmu di antara suku kanibal itu."
Jawab Paton kepada mereka, "Saya hanya mati sekali. Biarlah waktu, tempat dan bagaimana saya mati ditentukan oleh Tuhan sendiri."  Kepada yang lainnya ia berkata, "Mati atau hidup saya untuk melayani dan memuliakan Yesus Kristus, tidak ada bedanya apakah saya dimakan oleh kanibal atau oleh ulat. Di hari kebangkitan nanti, tubuh saya akan bangkit dan akan sama mulianya dengan tubuh Anda."
Hampir setiap hari ada saja Jemaat di gerejanya yang memohon kepadanya untuk tidak berangkat. Sangatlah mudah jika yang menentang keputusannya adalah orang-orang luar tetapi ia terus-menerus menerima tentangan dari teman-teman seiman yang adalah juga orang-orang yang akrab dengannya. Akhirnya Paton sendiri bimbang, apakah ia sedang menjalankan kehendak Tuhan atau hanya menuruti keinginannya sendiri.
Sama seperti hal-hal penting lainnya, Paton berkonsultasi dengan kedua orang tuanya. Surat dari kedua orang tuanya berbunyi,
"Kami tidak pernah memberitahu karena kami tidak mau mempengaruhi keputusanmu, tetapi kami memuji Tuhan untuk keputusan yang telah engkau ambil. Ayahmu memang ingin menjadi seorang pelayan Tuhan, tetapi karena pelbagai hal, ia terpaksa melepaskan keinginan itu. Saat Tuhan memberikanmu kepada kami, kami menyerahkanmu ke atas altar Tuhan, anak sulung yang diserahkan kepada Tuhan. Kami berkata kepada Tuhan, 'Jika Tuhan berkenan, kami ingin menyerahkan anak ini untuk dijadikan seorang misionaris bagi bangsa-bangsa.' Sejak dulu doa kami adalah agar engkau akan dipersiapkan dan dilayakkan untuk tugas ini. Dengan sepenuh hati kami berdoa agar Tuhan menerima persembahanmu, melindungimu dan menyelamatkan banyak jiwa yang terhilang lewat pelayananmu."
Dengan doa restu dari kedua orang tuanya, maka pada tanggal 30 Agustus 1858, Paton menginjakkan kaki di Aneityum, salah satu pulau di Vanuatu, bersama istri yang baru dinikahinya. Lalu mulailah perjuangan berat untuk memenangkan suku kanibal itu. Tidak sampai satu tahun, Paton sudah kehilangan isteri dan anaknya yang baru lahir karena penyakit tropis. Kata-kata terakhir istrinya yang tercinta adalah, "Janganlah sekali-kali berpikir bahwa saya menyesal telah datang ke tempat ini. Jika diberi kesempatan sekali lagi, saya akan melakukan hal yang sama dengan penuh kegembiraan." Dalam suratnya Paton menulis, "Jika bukan karena Yesus dan persekutuan dengan Dia, saya pasti sudah menjadi gila atau mati di samping pusara anak dan isteri saya."
Situasi medan sangatlah sulit, ia harus mempelajari bahasa suku yang sama sekali asing baginya dan setiap hari ia harus berhadapan dengan orang yang siap untuk membunuh dan memakannya. Ia tidak pernah meninggalkan rumah tanpa parang atau senjata api. Walaupun ia tahu ia sendiri tidak akan menggunakannya tetapi ini membuat musuhnya tidak akan begitu terdorong untuk menyerangnya jika ia terlihat membawa senjata.
Setelah menguasai bahasa suku itu, Paton mulai menyampaikan pesan Injil. Pernah sekali Paton mengadakan kebaktian di sebuah desa. Ia mengabarkan bahwa jika mereka mengikut Tuhan Yahweh, Yahweh akan melindungi mereka dari musuh-musuh mereka dan menuntun mereka ke dalam hidup yang penuh sukacita. Tiga orang dukun bangkit berdiri dan mengumumkan bahwa mereka tidak percaya pada Yahweh. Mereka berkata bahwa mereka tidak memerlukan Yahweh dan dapat dengan mudah membunuh Paton dengan ilmu sihir yang disebut nahak. Yang mereka perlukan untuk menyihir Paton hanyalah sisa makanannya. Untuk melindungi diri dari sihir mereka, penduduk di sana memang sangat berhati-hati dengan sisa makanan mereka. Kulit pisang, kulit jeruk atau makanan sisa akan dilindungi dengan baik agar tidak jatuh ke tangan musuh mereka.
Mendengar tantangan dari ketiga dukun itu, Paton meminta 3 buah prem dari seorang perempuan di sampingnya. Setelah menggigit sedikit dari buah itu ia memberikan sisanya kepada ketiga dukun itu, "Kalian telah melihat saya memakan buah ini". Paton berbicara kepada orang banyak, "Para dukun ini mengatakan bahwa mereka dapat membunuh saya dengan nahak. Saya menantang mereka untuk melakukannya, tapi bukan dengan menggunakan parang, panah atau pun tombak. Para dukun tidak mempunyai kuasa atas saya!"
Para penduduk desa langsung berteriak ketakutan dan banyak yang meminta agar Paton segera melarikan diri. Tetapi Paton tetap tinggal di situ dan menyaksikan upacara nahak. Upacara pun dimulai, mereka mulai membacakan mantra. Ketiga dukun itu masing-masing mengambil daun keramat dan memasukkan sisa makanan Paton ke dalamnya dan menggulungnya seperti lilin. Setelah menyalakan daun itu, dengan berbagai gerakan mereka meneruskan bacaan mantra sambil memandang ke arah Paton. Setelah upacara berjalan agak lama dan Paton masih baik-baik saja, mereka akhirnya bangkit berdiri dan berkata, "Kami harus menunda upacara ini sampai semua dukun kami terkumpul. Kami pasti akan membunuh engkau sebelum hari Minggu. Biarlah semua orang menyaksikannya, engkau pasti akan mati!"
"Baiklah, saya menantang semua imam dan dukun kalian untuk bersatu dan membunuh saya dengan nahak. Jika pada hari Minggu depan saya kembali ke desa ini dalam keadaan sehat, kalian harus mengakui bahwa ilah-ilah kalian tidak mempunyai kuasa atas saya, dan saya dilindungi oleh Tuhan Yahweh yang Benar dan Hidup!"
Setiap hari sepanjang minggu itu, ada saja utusan yang datang ke rumah Paton untuk melihat apakah dia masih hidup. Melihat Paton masih hidup penduduk desa semakin bersemangat menunggu datangnya hari Minggu. Sesuai dengan janjinya, Paton berangkat ke desa itu. Orang banyak berkerumun dan mereka terkejut luar biasa melihat Paton masih hidup.
"Salam kasih sobat-sobatku!  Saya datang kembali untuk mengabarkan tentang Tuhan Yahweh dan bagaimana caranya menyembah Dia."
Ketiga dukun itu mengangkat suara. "Kami mengaku kami sudah mencoba membunuhmu tetapi kami gagal. Mengapa kami gagal?  Karena engkau adalah seorang suci. Tuhanmu lebih besar dari pada tuhan kami dan Ia telah melindungimu."
"Sesungguhnya, Tuhan Yahweh itu lebih besar dari pada ilah-ilah kalian. Ia telah melindungi dan membantu saya. Ia adalah satu-satunya Tuhan yang Hidup dan Benar, satu-satunya Tuhan yang dapat mendengar dan menjawab doa. Ilah-ilah kalian tidak dapat mendengar doa-doa kalian. Berikanlah hati dan hidup kalian kepada Dia, kasihilah dan layanilah Dia. Inilah Tuhan saya, dan Ia juga adalah sahabat kalian jika kalian mau mendengar dan mengikuti suara-Nya."
"Marilah duduk bersama, saya akan mengabarkan tentang kasih dan belas kasihan Tuhan saya."  Dua orang dari ketiga dukun itu turut bergabung untuk mendengar tetapi yang satunya lagi, yaitu pemimpin mereka, pergi meninggalkan mereka. Tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa tombak dan mengarahkannya kepada Paton.
Paton dengan tenang duduk di tengah-tengah kerumunan orang banyak sambil memperhatikan dukun yang membawa tombak itu memarahi orang-orang desa karena mendengarkan Paton. Syukurlah kedua dukun yang lain berpihak kepada Paton dan bersama beberapa orang lain melindungi Paton dengan tubuh mereka. Untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah, Paton menawarkan untuk meninggalkan tempat itu.
Sejak hari itu kedua dukun tersebut menjadi teman baik Paton, dan beberapa penduduk desa juga mulai berdoa kepada Yahweh.
Demikianlah sepenggal dari pengalaman Paton mengabarkan Injil kepada para kanibal di Vanuatu. Berkat usaha Paton bersama banyak para misionaris lain sesudahnya, mayoritas penduduk kepulauan Vanuatu hari ini percaya kepada Tuhan Yahweh.
(Materi kisah pengalaman John Paton ini dikutip dari biografi yang ditulis oleh John Paton sendiri pada tahun 1891.)
-as

sinar terang di Afrika

Menjelang subuh, David Livingstone merasakan tubuhnya sudah tidak berdaya lagi. Dengan bersusah payah ia bangkit dari tempat tidur dan berlutut di samping ranjangnya untuk berdoa kepada Tuhan yang telah dengan setia menemaninya selama 33 tahun di Afrika. Ketika pembantunya Susi dan Chumah masuk ke gubuknya di pagi hari, mereka menemukan Livingstone dalam posisi berdoa dan sudah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Dunia telah kehilangan seorang misionaris, penjelajah dan pria yang mulia.
Walaupun Livingstone lebih senang menyebut dirinya seorang misionaris tetapi banyak yang menilai bahwa sumbangannya yang terbesar adalah usahanya untuk menghapus perbudakan dari benua Afrika. Salah satu ucapannya yang terakhir adalah, "Saya akan melupakan semua kelaparan, penderitaan dan pencobaan yang telah saya alami, jika saya berhasil menghentikan perdagangan budak di benua ini."
Kedatangan Livingstone ke benua Afrika pada tahun 1841 adalah untuk mengabarkan Injil, tetapi kekejaman sadis yang dilakukan oleh kaum Boer dalam menjalankan perdagangan budak membuat Livingstone berikrar, "Setelah melihat kesengsaraan yang diakibatkan oleh perbudakan, saya harus melakukan segalanya yang mungkin untuk menumpas dan mengurangi tingkat kejahatan ini!"
Penentangan para misionaris terhadap perdagangan budak menjadikan mereka musuh utama para pedagang budak. Seringkali para misionaris bukan saja diancam oleh kaum Boer tetapi juga oleh suku-suku Afrika yang menganggap mereka konco-konco para pedagang budak. Tetapi pertemuan dengan Livingstone seringkali mengubah pandangan suku pribumi terhadap para misionaris.
Livingstone yang juga adalah seorang dokter medis seringkali menempuh perjalanan yang berbahaya untuk merawat orang yang membutuhkan. Pernah sekali, di tengah malam seorang utusan datang membawa kabar bahwa seseorang telah diserang badak di tengah hutan dan dalam keadaan kritis. Teman-teman Livingstone menasehatinya untuk tidak berangkat ke hutan di tengah malam karena kondisi medan yang berbahaya dan ancaman serangan hewan-hewan liar. Tetapi bagi Livingstone hal ini memang telah menjadi tugasnya untuk sedapat mungkin menolong orang yang membutuhkan bantuannya. Ia berangkat dengan berjalan kaki melintasi hutan sejauh 10 km. Setibanya di tempat ternyata korban serangan badak itu sudah meninggal dunia. Apakah usahanya sia-sia? Sama sekali tidak karena melalui tindakannya, orang-orang pribumi itu bisa melihat kasih dan pengorbanannya untuk menolong mereka dan ini membedakan dia dari para pedagang budak.
Penemuan Livingstone dan keberhasilannya sebagai seorang penjelajah dan ilmiawan dapat dibaca di banyak buku sejarah tentang benua Afrika. Tetapi warisan peninggalan Livingstone yang terbesar adalah teladan hidupnya. Berkali-kali Livingstone ditipu, dikhianati dan difitnah oleh orang lain demi kepentingan mereka sendiri. Tetapi hal-hal ini tidak membuat Livingstone patah semangat dan meninggalkan pekerjaan yang sudah dimulainya. Kesetiaan dan fokusnya kepada Tuhan dalam melaksanakan tugas yang sudah dipercayakan kepadanya menjadi ciri dari karakternya.
Setelah menemukan tuannya dalam keadaan tidak bernyawa, Susi dan Chumah memulai persiapan untuk membawa jenazahnya kembali ke Inggris. Hal ini bukanlah suatu hal yang sederhana karena mereka harus melintasi hutan ribuan kilometer jauhnya dengan berjalan kaki dan naik perahu.
Jantung dan organ-organ tubuh lainnya dikeluarkan dan dimakamkan di bawah sebuah pohon yang besar. Jenazahnya kemudian dibalsem dan dikeringkan di bawah matahari. Selama 14 hari dalam proses pengeringan, mereka bergilir menjaga jenazah itu 24 jam sehari untuk memastikan tidak ada hewan yang mendekat. Perjalanan memulangkan jenazah Livingstone dari hutan di Afrika ke Inggris memakan waktu 9 bulan lamanya. Hal ini sendiri merupakan suatu mukjizat, suatu keajaiban yang terjadi hanya karena kasih. Ini membuat kita bertanya-tanya, kira-kira seperti apakah kesaksian hidup Livingstone itu sehingga membuat pembantu-pembantu tersebut begitu mengabdi kepadanya dan mengasihi dia? Lewat tindakan mereka, Chumah dan Susi memperlihatkan kasih dan hormat mereka kepada Livingstone.
Setelah kematian Livingstone, Susi akhirnya memberi diri untuk dibaptis dan mengambil nama baru, David, untuk memperingati orang yang pertama kali mengajarkan makna menjadi seorang Kristen kepadanya.
Bertahun-tahun setelah kematiannya, upaya Livingstone mulai membuahkan hasil. Afrika tidak lagi menjadi benua yang tertutup, perdagangan budak dikutuk dan lebih dari 500 misionaris mulai bekerja di Afrika. Banyak yang mengaku tertarik dan memberi diri untuk melayani di Afrika karena terinspirasi oleh tulisan dan teladan hidup Livingstone.
-as

perjalanan iman cs.Lewis

Selama bertahun-tahun, C.S Lewis penulis karya Narnia, merupakan seorang ateis yang sangat sulit untuk diyakinkan tentang keberadaan Tuhan. Dibutuhkan pergumulan intelektual yang panjang sebelum Lewis akhirnya menerima keberadaan Tuhan.  Lewis seringkali membombardir teman-temannya di Oxford, tempatnya belajar dan tempat dimana akhirnya ia mengajar, dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan yang baginya memang tidak ada jawabannya.
"Mengapa Tuhan Anda menciptakan alam semesta yang begitu kejam?"
"Mengapa Tuhan Anda mengizinkan seorang bayi meninggal?"
"Mengapa Tuhan Anda mengizinkan hewan yang tidak berdaya menderita sakit?"
"Mengapa Tuhan Anda menciptakan alam semesta yang begitu besar tapi hanya satu planet yang dapat didiami?"
"Mengapa alam semesta ciptaan Tuhan Anda ini berjalan sesuai dengan perkiraan para ilmuwan?"
"Jika Tuhan Anda itu baik dan maha kuasa, mengapa begitu banyak dari makhluk ciptaan-Nya yang tidak gembira? Bukankah Ia maha pengasih?"
"Mengapa manusia selalu terlibat dalam perang dan saling membunuh?"
Salah satu teman diskusinya adalah J.R.R Tolkien, penulis trilogi "Lord of the Ring" yang sangat dihormati Lewis sebagai lawannya dalam berdebat. Salah satu hal yang membuat Lewis mempertimbangkan keberadaan Tuhan yaitu dikarenakan hampir semua teman-temannya yang brillian di Oxford merupakan orang yang percaya pada Tuhan, termasuk Tolkien. Di benaknya, ia sering dibayangi pertanyaan, "Mengapa?"
Lewis adalah sosok yang sangat gemar membaca. Semua karya tulisan dari penulis barat yang terkenal dipelajari dan diteliti olehnya. Chesterton, Samuel Johnson, Spenser, Milton, Dante, John Donne, George Herbert dan Bunyan. Ia menemukan bahwa tulisan mereka sangat mendalam, kaya dan begitu nyata dalam menggambarkan kehidupan sehari-hari. Dan penulis-penulis ini semuanya merupakan orang Kristen. Bagaimana dengan penulis-penulis humanis yang terbesar, yang kebanyakannya adalah ateis? George Bernard Shaw, H.G Wells, John Stuart Mill dan Voltaire - mengapa karya mereka terkesan begitu dangkal, tidak kaya ataupun berisi makna bagi kehidupan sehari-hari?
Pada waktu itu Lewis hanya percaya pada rasionalisme dan materialisme. Tetapi di dalam pencariannya yang panjang, ia akhirnya harus mengakui bahwa materi dan rasio tidak dapat menjelaskan pengalaman manusia. Setelah begitu banyak membaca, ia semakin menyakini akan eksisnya satu pengaruh supranatural. Tetapi masih sulit baginya untuk menerima bahwa rasio yang berada di balik alam semesta ini atau pengaruh supranatural itu adalah Tuhan.
Malam demi malam ia bergumul sendirian di kamarnya di Magdalen Kolej, ia terus menolak untuk menerima identitas dan realitas Sang Mutlak. Di musim semi 1929, saat ia sedang berada di dalam sebuah bus di Oxford, tanpa kata-kata dan sesuatu apapun, tiba-tiba ia merasa terbebani dan dingin, seperti manusia es yang tidak terjangkau. Sesaat ia merasa harus membuat suatu keputusan. Lalu, hatinya yang sekeras batu, sedikit demi sedikit mulai mencair. Ia kemudian percaya. Di dalam kesendiriannya di atas bus, ia akhirnya mengakui bahwa Yang Mutlak adalah Roh. Roh adalah Tuhan. Dan Lewis menjadi seorang percaya (theis).
Ia menulis pada temannya, "Aku menyerah. Aku mengaku Tuhan adalah Tuhan." Ia menggambarkan dirinya sebagai orang percaya yang paling enggan dan patah hati. Ia menulis kepada teman baiknya, "Hal-hal yang mengerikan sedang terjadi kepada saya, sebaiknya Anda segera datang untuk menemui  saya, jika tidak saya mungkin akan masuk biara…"
Walaupun Lewis akhirnya menerima eksisnya Tuhan tetapi ia masih belum dapat memahami seluruh konsep tentang Kristus. Ia tidak dapat memahami bagaimana kehidupan dan kematian seseorang yang hidup 2000 tahun yang lalu dapat membantunya sekarang. Ia cukup mengenal Kekristenan untuk mengetahui bahwa teladan Kristus bukanlah jantung dari Kekristenan. Ia tahu bahwa ia harus menyakini bahwa darah Domba Allah itu telah menebusnya sekarang.
Lewis mendiskusikan dilemanya dengan Tolkien. Di suatu malam saat mereka berjalan-jalan di antara rusa dan pohon-pohon besar di taman, Lewis mengutarakan dilema yang dialaminya.
Tolkien berkata, "Kekristenan adalah kebenaran, satu fakta historis."
"Jika saya tidak memahami makna penyaliban atau kebangkitan atau penebusan, bagaimana saya dapat percaya pada Kristus?" Lewis berdiskusi.
Tolkien yang tahu Lewis sangat menyukai naskah bukunya tentang Hobbit dan mitos, yang akhirnya diterbitkan sebagai trilogi, "Lord of the Ring", bertanya, "Anda sangat menyukai mitos, bukan?
"Tentu saja" jawab Lewis.
"Apakah Anda senang dengan unsur seorang tuhan yang mati namun hidup kembali?"
"Ya", aku Lewis, "tapi saya tidak tahu mengapa".
"Saya juga tidak," jawab Tolkien. "Mengapa Anda begitu menuntut kejelasan tentang Kekristenan? Terima saja fakta bahwa Kekristenan adalah mitos yang sesungguhnya terjadi."
"Tetapi mitos itu bohong," Lewis berargumentasi, "tidak ada nilainya, walaupun mitos begitu menyenangkan."
"Tidak," Tolkien berpendapat, "mitos yang Anda katakan bohong itu adalah mitos manusia, walaupun mereka mengandung sedikit kebenaran. Mitos yang sepenuhnya benar – kelahiran, kematian dan kebangkitan Kristus – adalah mitos Allah."
"Mungkin saya terlalu menuntut dari suatu misteri, tetapi bukankah percaya itu pada akhirnya adalah kasih karunia dari Allah?" Lewis menalar.
Seminggu setelah percakapan itu, Lewis dibonceng oleh kakaknya, Warnie untuk mengunjungi kebun binatang. Perjalanan ke kebun binatang itu hanya berjarak 50 km, tetapi bagi Lewis perjalanan itu menempuh jarak 2000 tahun. Lewis sendiri tidak dapat merumuskan proses atau alasan yang dapat menjelaskan tentang apa yang terjadi. Ia berkata, bahwa seolah-olah selama ini ia sedang tertidur lena dan tiba-tiba ia sadar dan bangun. Saat ia turun dari sepeda motor itu, ia percaya pada Kristus. Lewis dengan rendah hati menyimpulkan, "Itulah kasih karunia Tuhan". Pada waktu itu Lewis berusia 33 tahun.
Buku pertama yang ditulisnya setelah ia percaya adalah Pilgrim Regress  yang mendapat sambutan yang baik dari publik. Lewat buku-buku dan program-program radionya yang popular, Lewis banyak menyakinkan orang awam akan kebenaran Kekristenan. Tetapi Lewis juga sangat menyadari bahwa banyak orang tertarik dengan Kekristenan pada awalnya tetapi, setelah mereka mempelajarinya lebih dalam, mereka akan menolak dengan keras. Karena Kekristenan itu tidak mudah. Tuhan menuntut penyerahan yang total dan memperlihatkan kepada manusia akan jurang yang begitu besar antara daging dan yang supranatural.
Untuk menyadarkan orang Kristen akan bahaya yang mengiringi perjalanan spiritual orang percaya, Lewis menulis 31 artikel yang akhirnya dibukukan menjadi The Screwtape Letters. The Screwtape Letters merupakan surat-surat dari seorang setan senior kepada setan junior, yang sedang belajar bagaimana untuk menghancurkan iman orang Kristen. Buku ini diterbitkan pada tahun 1942 dan Lewis mendedikasikan buku itu kepada Tolkien.
Pergumulan intelektual Lewis dari seorang ateis menjadi seorang percaya membuatnya calon yang tepat untuk menulis tentang apologetika atau mempertahankan iman Kekristenan. Lewis akhirnya menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang sering dipakainya untuk menantang orang-orang percaya. Buku yang berjudul The Problems of Pain yang bertujuan untuk menjelaskan penderitaan kemudian menerima sambutan yang hangat di kalangan orang awam. Ia berkata kepada kakaknya, "Saya harus menyakinkan pembaca bahwa saya menganjurkan Kekristenan bukan karena saya menyukainya atau karena itu baik bagi masyarakat, tetapi karena Kekristenan adalah kebenaran. Hal ini memang terjadi. Suatu fakta sentral dalam keberadaan kita!" Dari seseorang yang keras menolak kebenaran, Lewis kemudian menjadi seseorang yang tidak tergoyahkan dalam keyakinannya akan kebenaran dan eksistensi Tuhan.
(Artikel berdasarkan buku berjudul "C.S. Lewis, Creator of Narnia" oleh Sam Wellman, 1997.)
-as